|
|
SEMINAR PRA PENELITIAN
MAHASISWA JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN
BIOLOGI UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG |
Hari/ Tanggal
|
:
|
Kamis / 22 Agustus 2019
|
Waktu
|
:
|
08.00 – 09.00 WIB
|
Tempat
|
:
|
Ruang Seminar Gedung Daya (F)
|
Judul
|
:
|
Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal
Etnis Melayu sebagai Upaya Ketahanan Obat Tradisional di Kabupaten Bangka
Selatan
|
Nama
|
:
|
Dayu Puspita Sari
|
NIM
|
:
|
2031511008
|
Program Studi
|
:
|
Biologi
|
Komisi Pembimbing
|
:
|
1.
Henri, S.Si., M.Si. (UBB –
Ketua)
2. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D. (UB – Anggota) |
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan tersusun dari pulau-pulau dengan jumlah
lebih dari 17.000 pulau yang ditempati oleh berbagai macam suku
bangsa serta adat istiadatnya (Ramdhan 2015). Kawasan
yang memiliki luasan hutan tropis terkaya di dunia setelah Brazil ini menyimpan
potensi hayati yang merupakan sumber pangan dan obat-obatan yang telah lama
dimanfaatkan suku-suku tradisional (Kinho et al. 2011). Menurut Sopi
& Tallan (2015), sumber pengobatan di Indonesia mencakup
tiga sektor yang saling berhubungan, yaitu pengobatan rumah tangga atau
pengobatan sendiri, pengobatan medis profesional, dan pengobatan tradisional.
Etnobotani merupakan suatu bidang
ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan. Etnobotani selalu
menggambarkan kaitan antara budaya masyarakat dengan kegunaan dari tumbuhan, bagaimana
tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai untuk memberikan manfaat bagi manusia (Syafitri
2014). Etnobotani memiliki peran yang sangat
penting dalam mencegah
terjadinya peningkatan laju kepunahan biodiversitas yang semakin meningkat (Hakim 2014). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan
Dunia memperkirakan sekitar 75-90% masyarakat dunia tinggal di pedesaan masih
menggantungkan dirinya terhadap tumbuhan obat sebagai pilihan utama dalam
pengobatan dan merawat kesehatan (Hidayat 2012).
Kabupaten
Bangka Selatan merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian selatan
Pulau Bangka yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BPS
Bangka Selatan 2018). Bangka Belitung memiliki beberapa komposisi etnis, pada
setiap etnis terdapat pula keragaman ciri khas yang mereka dapat di
turun-temurun termasuk penggunaan tumbuhan obat. Tumbuhan merupakan sumber signifikan
dari obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan berbagai kategori penyakit manusia (Irmawati 2016).
Penelitian tumbuhan obat di Kabupaten
Bangka Selatan pernah dilakukan di Pulau Pongok, dimana diperoleh 72 jenis tumbuhan
obat tradisional
yang termasuk ke dalam 46 famili
digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan anak usia dini. Jumlah jenis terbanyak berasal dari
famili Poaceae dan jenis yang sering digunakan
dalam proses pengobatan
tersebut, yaitu kemenyan (Styrax benzoin)
dan kelapa (Cocos nucifera) (Hafizoh 2016). Selain itu, 53 jenis tumbuhan yang terdiri 31 famili digunakan sebagai obat tradisional untuk
kesehatan pasca melahirkan. Jumlah jenis terbanyak berasal dari famili Lauraceae (Analisa 2018).
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat
tradisional oleh masyarakat lokal di Kabupaten Bangka Selatan sudah dikenal dan
diterapkan di kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, informasi mengenai data
tumbuhan yang berpotensi sebagai obat hingga saat ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, dalam mendukung
ketahanan obat tradisional di Kabupaten Bangka Selatan, maka perlu dilakukan
penelitian mengenai studi
etnobotani tumbuhan obat. Hal ini dilakukan supaya pengetahuan tradisional yang
ada saat ini tidak begitu saja hilang dikarenakan kurangnya pengetahuan
mengenai pemanfaatan tumbuhan obat.
Rumusan Masalah
Penggunaan tumbuhan sebagai obat sudah diterapkan
oleh masyarakat Bangka Selatan. Akan tetapi, data penggunaan jenis-jenis
tumbuhan obat tidak terdokumentasi dengan baik sehingga perlunya pendataan
jenis-jenis, cara pemanfaatannya dan upaya konservasi terhadap tumbuhan obat
tersebut.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
pertimbangan rumusan masalah yang
teridentifikasi di atas, maka dapat diperjelaskan bahwa tujuan
penelitian ini yaitu:
1.
Menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan
obat yang digunakan sebagai obat
tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten
Bangka Selatan.
2.
Menganalisis pemanfaatan
tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan.
3.
Mengetahui upaya
konservasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten
Bangka Selatan dalam mendukung ketahanan obat tradisional.
Manfaat Penelitian
Penelitian
mengenai etnobotani ini sangat penting dikarenakan dapat memberikan manfaat
secara langsung dalam praktek pemanfaatan sumberdaya alam. Selain itu juga
penelitian etnobotani dapat memberikan nilai positif dalam pelestarian
sumberdaya hayati dan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Pemanfaatan
tumbuhan sebagai obat tradisional juga dapat dijadikan pengobatan utama oleh
masyarakat, dikarenakan memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan
pengobatan konvensional.
BAHAN
DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian pemanfaatan
tumbuhan obat dilaksanakan pada bulan Juli-Desember 2019 di
Kabupaten Bangka Selatan Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian akan dilaksanakan
pada 8 Kecamatan yang
terdiri dari 17 Desa, yaitu : 1. Kecamatan Toboali (Desa
Jeriji, Desa Serdang dan Desa Rindik); 2. Kecamatan Air Gegas
(Desa Air Gegas, Desa Delas dan Desa Pergam); 3.
Kecamatan Payung (Desa Nadung dan Desa Ranggung);
4. Kecamatan Kepulauan Pongok (Desa Pongok); 5. Kecamatan Lepar Pongok (Desa
Tanjung Labu dan Desa Tanjung Sangkar); 6. Kecamatan
Pulau Besar (Desa Batu betumpang dan Desa Panca
Tunggal); 7. Kecamatan Simpang Rimba (Desa Permis dan Desa
Simpang Rimba); 8. Kecamatan Tukak Sadai (Desa Bukit Terap dan Desa
Pasir Putih). Adapun lokasi kegiatan penelitian seperti tersaji pada (Gambar
1) sedangkan rencana kegiatan penelitian seperti yang
tersaji pada (Tabel 1).
Gambar 1. Peta Lokasi
Penelitian
Tabel 1. Rencana
kegiatan penelitian
|
Kegiatan |
Pelaksanaan |
|||||||||||||||||||||||||||
|
Juli 2019 |
Agustus 2019 |
September 2019 |
Oktober 2019 |
November2019 |
Desember 2019 |
|||||||||||||||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|||||
|
1 |
Survey lapangan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
2 |
Pembuatan proposal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
3 |
Seminar proposal |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
4 |
Pengambilan data |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
5 |
Analisis data |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
6 |
Seminar hasil |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
7 |
Revisi skripsi |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
8 |
Sidang |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
Alat dan Bahan
Alat yang
digunakan pada penelitian yaitu untuk wawancara berupa alat tulis (buku, pena,
pensil, penghapus) dan kamera, untuk pembuatan herbarium yaitu alkohol 70%,
label gantung, kertas klip, koran bekas, kamera, material tumbuhan berupa
koleksi tumbuhan dari lapangan, plastik dan oven, sedangkan bahan untuk objek
penelitian yaitu masyarakat Kabupaten Bangka Selatan yang mempunyai pengetahuan
mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat.
Metode Pengumpulan
Data
Pengumpulan
data pengetahuan masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan
terhadap tumbuhan obat melalui tahapan-tahapan berikut ini:
Observasi Lapangan
Metode observasi
dilakukan secara observasi partisipan dan observasi langsung, dengan cara
melihat aktivitas atau kegiatan masyarakat yang berkenan dengan pemanfaatan
potensi sumberdaya sebagai obat tradisional. Data yang didapatkan dicatat dalam tabel pengamatan yang berguna untuk mengurangi
subjektivitas peneliti, membangun hubungan serta pencocokan hasil yang
disampaikan dengan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat (Reyes-Garcia et al. 2006).
Teknik Pemilihan Informan
Cara pemilihan
informan dilakukan dengan mencari informan dari masyarakat menggunakan metode snowball sampling. Informan ditentukan
berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat adat, kepala suku, kepala desa,
kepala kampung, dan sumber terpercaya lainnya. Pemberi informasi tersebut
kemudian disebut sebagai penunjuk jalan (Ristoja 2012). Berikut ini kriteria
informan yang akan di wawancarai menurut Ristoja (2012), yaitu:
a. Memiliki pengetahuan tentang penggunaan tumbuhan yang bermanfaatan bagi
kesehatan dan pengobatan.
b. Melakukan praktik pengobatan menggunakan tumbuhan bagi kesehatan dan
pengobatan.
c. Orang yang diwawancara yaitu penduduk asli dan dikenal oleh masyarakat
setempat.
Teknik pemilihan desa
dalam setiap kecamatan yaitu menggunakan metode purposive sampling yaitu berdasarkan pertimbangan tertentu, dalam
hal paling banyak yang menggunakan tumbuhan obat sebagai pengobatan
tradisional.
Rentangan
umur penduduk yang diwawancarai menurut Witjoro et al (2016) yaitu:
· 17-30
tahun dikategorikan usia muda.
· >30-45
tahun dikategorikan usia dewasa.
· >45-49
tahun dikategorikan usia paruh baya.
· >60
tahun dikategorikan usia tua.
Teknik
Wawancara
Data dikumpulkan
menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang telah dipersiapkan atau
sudah terstruktur dengan memperdalam pertanyaan terhadap responden. Menurut
Sugiyono (2009), adapun cara-cara yang dapat dilakukan ketika mewawancarai
responden adalah:
a. Memperkenalkan diri dan menggali profil atau riwayat hidup narasumber dapat
dilakukan dalam bentuk basa-basi.
b. Mulai mengajukan pertanyaan secara sistematis dengan keinginan tahu yang
tinggi.
c. Mencatat dan merekam dengan jelas seluruh jawaban narasumber.
d. Mengakhiri wawancara dengan baik.
Koleksi dan Identifikasi
Pengambilan koleksi tumbuhan dilakukan dengan direkamnya
gambar berupa foto, nama lokal, tanggal pengambilan sampel, dan khasiatnya
(Witjoro et al. 2016). Identifikasi
dilakukan setelah proses pengambilan data melalui wawancara selesai, kemudian
data tumbuhan yang telah terkumpulkan dibukti oleh fakta pada keberadaan
tumbuhan obat dilapangan dengan melakukan pengambilan sampel, Kemudian dilakukan
dalam pembuatan herbarium kering
(Ristoja 2012).
Identifikasi dilakukan dengan
menggunakan beberapa buku diantaranya: “Taksonomi
Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup” (Badan POM RI 2009), “100 Top Tanaman Obat Indonesia”
(Kemenkes RI 2011),
“Formularium Ramuan Obat Tradisional
Ramuan Etnomedisin” (Badan POM RI 2011). Selain itu, proses identifikasi
juga dilakukan dengan mencocokan spesimen hasil penelitian dengan spesimen
koleksi Herbarium Bangka
Belitungense di Universitas
Bangka Belitung yang sudah teridentifikasi sebelumnya.
Apabila spesimen pembanding di Herbarium Bangka Belitungense
tidak tersedia, maka dilakukan
identifikasi dengan mengirimkan sampel untuk dicocokan
dengan Herbarium Bogoriense di LIPI Cibinong.
Analisis Data
Menurut Kayani et al. (2015), menyatakan
bahwa data yang dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap
keberadaan tumbuhan obat, maka dianalisis dengan menggunakan index statistic ethnomedicinal kuantitatif
yaitu menggunakan nilai sebagai berikut:
Informant Consensus
Factor (ICF)
ICF yaitu
berfungsi untuk menganalisis tingkat kesepakatan antar informan dan tumbuhan
yang akan digunakan dalam setiap kategori, yang dihitung
menggunakan rumus:(Gazzaneo et al.
2005).
ICF = Nur – Nt (Nur –
1)
Ket: Nur = Jumlah total laporan penggunaan untuk setiap kategori jenis penyakit
Nt = Jumlah spesies yang dikategorikan oleh
semua informan
Use Value (UV)
UV digunakan untuk
menghitung kepentingan relatif dari tumbuhan berdasarkan jumlah orang yang
mengutipnya, dihitung
dengan menggunakan rumus:(Samoisy & Mahomoodally 2016).
UV = (SUi)/ N
|
UV = (SUi)/ N |
Ket: Ui = Jumlah penggunaan spesies yang digunakan oleh setiap informan
N = Jumlah total informan dalam penelitian
Fidelity Level (FL)
FL digunakan
untuk mengetahui spesies yang paling sering digunakan untuk mengobati
berdasarkan penyakit tertentu, dengan menggunakan rumus: (Al-Quran 2009).
FL= (NP/Nur)
x 100
Ket: NP
= Jumlah informan yang menyebutkan tentang spesies dalam penggunaan tumbuhan tertentu dan
untuk penyakit
tertentu
Nur = Jumlah total laporan penggunaan untuk setiap kategori jenis penyakit
Relative Frequency
Citation (RFC)
RFC digunakan untuk menentukan tanaman
yang paling sering digunakan dan tanaman yang paling disukai. RFC dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:(Tardio & Santayana 2008).
RFC= FC/N
|
RFC= FC/N |
Ket: FC = Jumlah
informan yang menyebutkan penggunaan spesies
N = Jumlah total informan dalam penelitian
Analisis Integrasi Konservasi
Rumusan strategi konservasi disusun dari data potensi sumber daya tumbuhan
obat mulai dari jenis-jenis tingkat pemanfaatan oleh masyarakat yang
digabungkan persepsi masyarakat. Analisis dilakukan menggunakan analisis SWOT
(Strenghts, Weaknesses, Opportunities dan Threats) yang dimasukkan kedalam
matriks SWOT untuk mendapatkan kesepakatan bersama dalam merumuskan strategi
yang baik. Hasil wawancara dan diskusi dalam penelitian ini juga dilakukan
menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk menjadi rumusan strategi
konservasi tumbuhan obat (Henri et al.
2018)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran S. 2009.
Ethnopharmacological Survey of Wild Medicinal Plants in Showbak, Jordan. J Ethnopharmacol.
123(1): 45-50.
Analisa. 2018. Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Tradisional Pasca Melahirkan di Pulau Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. [Skripsi]. Universitas Bangka Belitung:
Bangka.
Badan POM RI. 2009. Taksonomi Koleksi Tanaman Obat
Kebun Tanaman Obat Citeureup. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional,
Komestik, dan Produk Komplemen Direktorat Obat Asli Indonesia.
Badan POM RI. 2011. Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. Ramuan Etnomedisin. Vol 1
BPS [Badan Pusat Statistik]. 2018. Kabupaten Bangka Selatan dalam angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Selatan.Toboali. https://bangkaselatankab.bps.go.id. [Diakses
13 Februari 2019]
Gazzaneo LRS,
Lucena RFP & Albuquerque UP. 2005. Knowledge and Use of Medicinal Plants by
Local Specialists in A Region
of Atlantic Forest in the State of Pernambuco (North Eastern Brazil). Journal
of Ethnobiology and Ethnomedicine. 1: 1-11.
Hafizoh. 2016. Pemanfaatan Tumbuhan
Sebagai Obat Tradisional untuk Kesehatan Anak Usia Dini di Pulau Pongok
Kabupaten Bangka Selatan [Skripsi].
Universitas Bangka Belitung: Bangka.
Hakim L. 2014. Etnobotani
dan Manajemen Kebun-Pekarangan Rumah:Etnobotani dan Manajemen Kebun- Pekarangan Rumah: Ketahanan Pangan, Kesehatan dan Agrowisata. Penerbit Selaras: Malang.
Henri, Hakim L & Batoro J. 2018.
Kearifan Lokal Masyarakat sebagai Upaya Konservasi Hutan Pelawan di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka
Belitung. Jurnal Ilmu Lingkungan. 16
(1): 49-57.
Hidayat S. 2012. Keberadaan dan
Pemanfaatan Tumbuhan Obat Langka Di Wilayah
Bogor dan Sekitarnya. Media Konservasi. 17(1):33-38.
Irmawati. 2016. Etnobotani Tumbuhan
Obat Tradisional pada Masyarakat di Desa Baruga Kecamatan Malili Kabupaten
Luwu Timur [Skripsi]:
UIN Alauddin Makassar: Makassar.
Kinho J et al. 2011. Tumbuhan Obat Tradisional di Sulawesi
Utara Jilid I. Balai Penelitian
Kehutanan Manado: Manado
Kayani et al. 2015. Ethnobotany of
Medicinal Plants Among the Communities of Alpine and Sub-alpine Regions of Pakistan. Journal of Ethnopharmacology.164: 186–202.
Kemenkes RI. 2011. 100 Top Tanaman Obat Indonesia.
Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional.
Ramdhan B. 2015. Valuasi
Keanekaragaman Hayati Tumbuhan dalam Heterogenitas Spasial: Studi Kasus Kampung
Adat Cikondang Jawa Barat [Skripsi].
Institut Pertanian Bogor: Bogor
Reyes-Garcia V., T. Huanca, V.
Vades, W. Leonard & D. Wilkie. 2006. Cultural, Practical, and Economic
Value of Wild Plants: A Quantitative Study in the Bolivian Amazon. Economic Botany. 60(1):62-74
Ristoja. 2012. Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan
Tumbuhan Obat di Indonesia Berbasis Komunitas. Badan Litbang Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.
Samoisy AK &
Mahomoodally F. 2016. Ethnopharmacological Appraisal of Culturally Important Medicinal Plants and Polyherbal
Formulas Used Against Communicable Diseases in Rodrigues Island. J Ethnopharmacol. 194: 803-818.
Syafitri FR, Sitawati
& Setyobudi L. 2014. Kajian etnobotani masyarakat
desaberdasarkan kebutuhan hidup.
Jurnal Produksi Tanaman. 2(2): 172–179.
Sopi I & Tallan MM. 2015. Kajian Beberapa Tumbuhan Obat Yang digunakan dalam Pengobatan Malaria Secara Tradisional. Spirakel. 7(2): 28-37.
Sugiyono. 2009. Pemanfaatan Tanaman
Obat. Tumbuhan Obat Indonesia. Jawa
Timur.
Tardio J, &
Pardo-de-Santayana M. 2008. Cultural Importance Indices: A Comparative Analysis
Based On
the Useful Wild Plants of Southern Cantabria (Northem Spain). Econ Bot. 62: 24-39.
Witjoro A, Sulisetijono & Setiowati FK. 2016. Pemanfaatan Tanaman Obat di Desa Kayu kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Natural. 3(4): 303-310.