Senin, 08 Februari 2021

 

SEMINAR PRA PENELITIAN

MAHASISWA JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN BIOLOGI

UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG

Hari/ Tanggal

:

Kamis / 22 Agustus  2019

Waktu

:

08.00 – 09.00 WIB

Tempat

:

Ruang Seminar Gedung Daya (F)

Judul

:

Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Etnis Melayu sebagai Upaya Ketahanan Obat Tradisional di Kabupaten Bangka Selatan

Nama

:

Dayu Puspita Sari

NIM

:

2031511008

Program Studi

:

Biologi

Komisi Pembimbing

:

1.   Henri, S.Si., M.Si. (UBB – Ketua)

2.   Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D. (UB – Anggota)

                        

PENDAHULUAN

Latar Belakang

           Indonesia sebagai negara kepulauan tersusun dari pulau-pulau dengan jumlah lebih dari 17.000 pulau yang ditempati oleh berbagai macam suku bangsa serta adat istiadatnya (Ramdhan 2015). Kawasan yang memiliki luasan hutan tropis terkaya di dunia setelah Brazil ini menyimpan potensi hayati yang merupakan sumber pangan dan obat-obatan yang telah lama dimanfaatkan suku-suku tradisional (Kinho et al. 2011). Menurut Sopi & Tallan (2015), sumber pengobatan di Indonesia mencakup tiga sektor yang saling berhubungan, yaitu pengobatan rumah tangga atau pengobatan sendiri, pengobatan medis profesional, dan pengobatan tradisional.

           Etnobotani merupakan suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan. Etnobotani selalu menggambarkan kaitan antara budaya masyarakat dengan kegunaan dari tumbuhan, bagaimana tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai untuk memberikan manfaat bagi manusia (Syafitri 2014). Etnobotani memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah terjadinya peningkatan laju kepunahan biodiversitas yang semakin meningkat (Hakim 2014). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 75-90% masyarakat dunia tinggal di pedesaan masih menggantungkan dirinya terhadap tumbuhan obat sebagai pilihan utama dalam pengobatan dan merawat kesehatan (Hidayat 2012).  

Kabupaten Bangka Selatan merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian selatan Pulau Bangka yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BPS Bangka Selatan 2018). Bangka Belitung memiliki beberapa komposisi etnis, pada setiap etnis terdapat pula keragaman ciri khas yang mereka dapat di turun-temurun termasuk penggunaan tumbuhan obat. Tumbuhan merupakan sumber signifikan dari obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan berbagai kategori penyakit manusia (Irmawati 2016).

           Penelitian tumbuhan obat di Kabupaten Bangka Selatan pernah dilakukan di Pulau Pongok, dimana diperoleh 72 jenis tumbuhan obat tradisional yang termasuk ke dalam 46 famili digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan anak usia dini. Jumlah jenis terbanyak berasal dari famili Poaceae dan jenis yang sering digunakan dalam proses pengobatan tersebut, yaitu kemenyan (Styrax benzoin) dan kelapa (Cocos nucifera) (Hafizoh 2016). Selain itu, 53 jenis  tumbuhan yang terdiri 31 famili digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan pasca melahirkan. Jumlah jenis terbanyak berasal dari famili Lauraceae (Analisa 2018).

           Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal di Kabupaten Bangka Selatan sudah dikenal dan diterapkan di kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, informasi mengenai data tumbuhan yang berpotensi sebagai obat hingga saat ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, dalam mendukung ketahanan obat tradisional di Kabupaten Bangka Selatan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai studi etnobotani tumbuhan obat. Hal ini dilakukan supaya pengetahuan tradisional yang ada saat ini tidak begitu saja hilang dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat.

 

Rumusan Masalah

Penggunaan tumbuhan sebagai obat sudah diterapkan oleh masyarakat Bangka Selatan. Akan tetapi, data penggunaan jenis-jenis tumbuhan obat tidak terdokumentasi dengan baik sehingga perlunya pendataan jenis-jenis, cara pemanfaatannya dan upaya konservasi terhadap tumbuhan obat tersebut.

 

Tujuan Penelitian

           Berdasarkan pertimbangan rumusan masalah yang teridentifikasi di atas, maka dapat diperjelaskan bahwa tujuan penelitian ini yaitu:

1.      Menginventarisasi jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan.

2.      Menganalisis pemanfaatan tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan.

3.      Mengetahui upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan dalam mendukung ketahanan obat tradisional.

 

Manfaat Penelitian

           Penelitian mengenai etnobotani ini sangat penting dikarenakan dapat memberikan manfaat secara langsung dalam praktek pemanfaatan sumberdaya alam. Selain itu juga penelitian etnobotani dapat memberikan nilai positif dalam pelestarian sumberdaya hayati dan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional juga dapat dijadikan pengobatan utama oleh masyarakat, dikarenakan memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan pengobatan konvensional.

 

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

           Penelitian pemanfaatan tumbuhan obat dilaksanakan pada bulan Juli-Desember 2019 di Kabupaten Bangka Selatan Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian akan dilaksanakan pada 8 Kecamatan yang terdiri dari 17 Desa, yaitu : 1. Kecamatan Toboali (Desa Jeriji, Desa Serdang dan Desa Rindik); 2. Kecamatan Air Gegas (Desa Air Gegas, Desa Delas dan Desa Pergam); 3. Kecamatan Payung (Desa Nadung dan Desa Ranggung); 4. Kecamatan Kepulauan Pongok (Desa Pongok); 5. Kecamatan Lepar Pongok (Desa Tanjung Labu dan Desa Tanjung Sangkar); 6. Kecamatan Pulau Besar (Desa Batu betumpang dan Desa Panca Tunggal); 7. Kecamatan Simpang Rimba (Desa Permis dan Desa Simpang Rimba); 8. Kecamatan Tukak Sadai (Desa Bukit Terap dan Desa Pasir Putih). Adapun lokasi kegiatan penelitian seperti tersaji pada (Gambar 1) sedangkan rencana kegiatan penelitian seperti yang tersaji pada (Tabel 1).

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

 

 

 

Tabel 1. Rencana kegiatan penelitian

No

Kegiatan

Pelaksanaan

Juli

2019

Agustus

2019

September

2019

Oktober

2019

November2019

Desember

2019

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Survey lapangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Pembuatan proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Seminar proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Pengambilan data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Analisis data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Seminar hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Revisi skripsi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Sidang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alat dan Bahan

           Alat yang digunakan pada penelitian yaitu untuk wawancara berupa alat tulis (buku, pena, pensil, penghapus) dan kamera, untuk pembuatan herbarium yaitu alkohol 70%, label gantung, kertas klip, koran bekas, kamera, material tumbuhan berupa koleksi tumbuhan dari lapangan, plastik dan oven, sedangkan bahan untuk objek penelitian yaitu masyarakat Kabupaten Bangka Selatan yang mempunyai pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat.

 

Metode Pengumpulan Data

           Pengumpulan data pengetahuan masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan terhadap tumbuhan obat melalui tahapan-tahapan berikut ini:

Observasi Lapangan

Metode observasi dilakukan secara observasi partisipan dan observasi langsung, dengan cara melihat aktivitas atau kegiatan masyarakat yang berkenan dengan pemanfaatan potensi sumberdaya sebagai obat tradisional. Data yang didapatkan dicatat dalam tabel pengamatan yang berguna untuk mengurangi subjektivitas peneliti, membangun hubungan serta pencocokan hasil yang disampaikan dengan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat (Reyes-Garcia et al. 2006).

 

Teknik Pemilihan Informan

Cara pemilihan informan dilakukan dengan mencari informan dari masyarakat menggunakan metode snowball sampling. Informan ditentukan berdasarkan keterangan dari tokoh masyarakat adat, kepala suku, kepala desa, kepala kampung, dan sumber terpercaya lainnya. Pemberi informasi tersebut kemudian disebut sebagai penunjuk jalan (Ristoja 2012). Berikut ini kriteria informan yang akan di wawancarai menurut Ristoja (2012), yaitu:

a.    Memiliki pengetahuan tentang penggunaan tumbuhan yang bermanfaatan bagi kesehatan dan pengobatan.

b.   Melakukan praktik pengobatan menggunakan tumbuhan bagi kesehatan dan pengobatan.

c.    Orang yang diwawancara yaitu penduduk asli dan dikenal oleh masyarakat setempat.

 

            Teknik pemilihan desa dalam setiap kecamatan yaitu menggunakan metode purposive sampling yaitu berdasarkan pertimbangan tertentu, dalam hal paling banyak yang menggunakan tumbuhan obat sebagai pengobatan tradisional.

Rentangan umur penduduk yang diwawancarai menurut Witjoro et al (2016) yaitu:

·      17-30 tahun dikategorikan usia muda.

·      >30-45 tahun dikategorikan usia dewasa.

·      >45-49 tahun dikategorikan usia paruh baya.

·      >60 tahun dikategorikan usia tua.

 

Teknik Wawancara

Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang telah dipersiapkan atau sudah terstruktur dengan memperdalam pertanyaan terhadap responden. Menurut Sugiyono (2009), adapun cara-cara yang dapat dilakukan ketika mewawancarai responden adalah:

a.    Memperkenalkan diri dan menggali profil atau riwayat hidup narasumber dapat dilakukan dalam bentuk basa-basi.

b.   Mulai mengajukan pertanyaan secara sistematis dengan keinginan tahu yang tinggi.

c.    Mencatat dan merekam dengan jelas seluruh jawaban narasumber.

d.   Mengakhiri wawancara dengan baik.

 

Koleksi dan Identifikasi

                Pengambilan koleksi tumbuhan dilakukan dengan direkamnya gambar berupa foto, nama lokal, tanggal pengambilan sampel, dan khasiatnya (Witjoro et al. 2016). Identifikasi dilakukan setelah proses pengambilan data melalui wawancara selesai, kemudian data tumbuhan yang telah terkumpulkan dibukti oleh fakta pada keberadaan tumbuhan obat dilapangan dengan melakukan pengambilan sampel, Kemudian dilakukan dalam pembuatan herbarium kering (Ristoja 2012).

                Identifikasi dilakukan dengan menggunakan beberapa buku diantaranya: “Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup” (Badan POM RI 2009), “100 Top Tanaman Obat Indonesia” (Kemenkes RI 2011), “Formularium Ramuan Obat Tradisional Ramuan Etnomedisin” (Badan POM RI 2011). Selain itu, proses identifikasi juga dilakukan dengan mencocokan spesimen hasil penelitian dengan spesimen koleksi Herbarium Bangka Belitungense di Universitas Bangka Belitung yang sudah teridentifikasi sebelumnya. Apabila spesimen pembanding di Herbarium Bangka Belitungense tidak tersedia, maka dilakukan identifikasi dengan mengirimkan sampel untuk dicocokan dengan Herbarium Bogoriense di LIPI Cibinong.

 

Analisis Data

Menurut Kayani et al. (2015), menyatakan bahwa data yang dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap keberadaan tumbuhan obat, maka dianalisis dengan menggunakan index statistic ethnomedicinal kuantitatif yaitu menggunakan nilai sebagai berikut:

 

Informant Consensus Factor (ICF)

ICF yaitu berfungsi untuk menganalisis tingkat kesepakatan antar informan dan tumbuhan yang akan digunakan dalam setiap kategori, yang dihitung menggunakan rumus:(Gazzaneo et al. 2005).

ICF = Nur – Nt (Nur – 1)

 

 


Ket:  Nur = Jumlah total laporan penggunaan untuk setiap kategori jenis penyakit

 Nt  = Jumlah spesies yang dikategorikan oleh semua informan

 

Use Value (UV)

UV digunakan untuk menghitung kepentingan relatif dari tumbuhan berdasarkan jumlah orang yang mengutipnya, dihitung dengan menggunakan rumus:(Samoisy & Mahomoodally 2016).

UV = (SUi)/ N

 

 

 


Ket: Ui = Jumlah penggunaan spesies yang digunakan oleh setiap informan

 N = Jumlah total informan dalam penelitian

 

Fidelity Level (FL)

FL digunakan untuk mengetahui spesies yang paling sering digunakan untuk mengobati berdasarkan penyakit tertentu, dengan menggunakan rumus: (Al-Quran 2009).

FL= (NP/Nur) x 100

 

 

 


Ket: NP  = Jumlah informan yang menyebutkan tentang spesies dalam penggunaan tumbuhan tertentu dan
                  untuk penyakit tertentu

 Nur = Jumlah total laporan penggunaan untuk setiap kategori jenis penyakit

 

Relative Frequency Citation (RFC)

RFC digunakan untuk menentukan tanaman yang paling sering digunakan dan tanaman yang paling disukai. RFC dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:(Tardio & Santayana 2008).

RFC= FC/N

 

 

 


Ket: FC = Jumlah informan yang menyebutkan penggunaan spesies

N = Jumlah total informan dalam penelitian

 

Analisis Integrasi Konservasi

            Rumusan strategi konservasi disusun dari data potensi sumber daya tumbuhan obat mulai dari jenis-jenis tingkat pemanfaatan oleh masyarakat yang digabungkan persepsi masyarakat. Analisis dilakukan menggunakan analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities dan Threats) yang dimasukkan kedalam matriks SWOT untuk mendapatkan kesepakatan bersama dalam merumuskan strategi yang baik. Hasil wawancara dan diskusi dalam penelitian ini juga dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk menjadi rumusan strategi konservasi tumbuhan obat (Henri et al. 2018)

           

                 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Quran S. 2009. Ethnopharmacological Survey of Wild Medicinal Plants in Showbak, Jordan. J             Ethnopharmacol. 123(1): 45-50.

Analisa. 2018. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional Pasca Melahirkan di Pulau Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. [Skripsi]. Universitas Bangka Belitung: Bangka.

Badan POM RI. 2009. Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Komestik, dan Produk Komplemen Direktorat Obat Asli Indonesia.

Badan POM RI. 2011. Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. Ramuan Etnomedisin. Vol 1

BPS [Badan Pusat Statistik]. 2018. Kabupaten Bangka Selatan dalam angka. Badan Pusat Statistik         Kabupaten Bangka Selatan.Toboali. https://bangkaselatankab.bps.go.id. [Diakses 13 Februari 2019]

Gazzaneo LRS, Lucena RFP & Albuquerque UP. 2005. Knowledge and Use of Medicinal Plants by Local             Specialists in A Region of Atlantic Forest in the State of Pernambuco (North Eastern Brazil).        Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine. 1: 1-11.

Hafizoh. 2016. Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Obat Tradisional untuk Kesehatan Anak Usia Dini di Pulau Pongok Kabupaten Bangka Selatan [Skripsi]. Universitas Bangka Belitung: Bangka.

Hakim L. 2014. Etnobotani dan Manajemen Kebun-Pekarangan Rumah:Etnobotani dan Manajemen       Kebun-            Pekarangan Rumah: Ketahanan Pangan, Kesehatan dan Agrowisata. Penerbit Selaras:      Malang.

Henri, Hakim L & Batoro J. 2018. Kearifan Lokal Masyarakat sebagai Upaya Konservasi Hutan Pelawan            di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung. Jurnal Ilmu Lingkungan. 16 (1): 49-57.

Hidayat S. 2012. Keberadaan dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Langka Di           Wilayah Bogor dan     Sekitarnya. Media Konservasi. 17(1):33-38.

Irmawati. 2016. Etnobotani Tumbuhan Obat Tradisional pada Masyarakat di Desa Baruga Kecamatan     Malili Kabupaten Luwu Timur [Skripsi]: UIN Alauddin Makassar: Makassar.

Kinho J et al. 2011. Tumbuhan Obat Tradisional di Sulawesi Utara Jilid I. Balai     Penelitian Kehutanan Manado: Manado

Kayani et al. 2015. Ethnobotany of Medicinal Plants Among the Communities of Alpine and Sub-alpine            Regions of Pakistan. Journal of Ethnopharmacology.164: 186–202.

Kemenkes RI. 2011. 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat     Tradisional.

Ramdhan B. 2015. Valuasi Keanekaragaman Hayati Tumbuhan dalam Heterogenitas Spasial: Studi Kasus Kampung Adat Cikondang Jawa Barat [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor: Bogor

Reyes-Garcia V., T. Huanca, V. Vades, W. Leonard & D. Wilkie. 2006. Cultural, Practical, and Economic Value of Wild Plants: A Quantitative Study in the Bolivian Amazon. Economic Botany. 60(1):62-74

Ristoja. 2012. Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat di Indonesia Berbasis Komunitas. Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.

Samoisy AK & Mahomoodally F. 2016. Ethnopharmacological Appraisal of Culturally Important             Medicinal Plants and Polyherbal Formulas Used Against Communicable Diseases in Rodrigues         Island. J Ethnopharmacol. 194: 803-818.

Syafitri FR, Sitawati & Setyobudi L. 2014. Kajian etnobotani masyarakat desaberdasarkan kebutuhan     hidup. Jurnal Produksi Tanaman. 2(2): 172–179.

Sopi I & Tallan MM. 2015. Kajian Beberapa Tumbuhan Obat Yang digunakan dalam Pengobatan            Malaria Secara Tradisional. Spirakel. 7(2): 28-37.

Sugiyono. 2009. Pemanfaatan Tanaman Obat. Tumbuhan Obat Indonesia. Jawa Timur.

Tardio J, & Pardo-de-Santayana M. 2008. Cultural Importance Indices: A Comparative    Analysis Based           On the Useful Wild Plants of Southern Cantabria (Northem Spain). Econ Bot. 62: 24-39.

Witjoro A, Sulisetijono & Setiowati FK. 2016. Pemanfaatan Tanaman Obat di Desa Kayu kebek,             Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Natural. 3(4): 303-310.