Senin, 08 Februari 2021

Skripsi Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Etnis Melayu di Kabupaten Bangka Selatan

 

ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT LOKAL ETNIS MELAYU DI KABUPATEN BANGKA SELATAN

 

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (Strata 1) dari Universitas Bangka Belitung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

 

DAYU PUSPITA SARI

2031511008

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN BIOLOGI

UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG

2019


HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

            Dengan ini saya Dayu Puspita Sari menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis adalah hasil karya sendiri dan skripsi ini belum pernah diajukan sebagai pemenuhan untuk memperoleh gelar atau derajat kesarjanaan strata satu (S1) dari Universitas Bangka Belitung maupun Perguruan Tinggi lainnya.

            Semua informasi yang dimuat dalam skripsi ini berasal dari penulis lain, baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan telah penulis cantumkan nama sumber penulisnya secara benar dan semua isi skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis.

 

 

Balunijuk,  Desember 2019

 

 

                                                                                                Dayu Puspita Sari


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

© Hak Cipta milik UBB, tahun 2019

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

 

            Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar UBB.

 

            Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin UBB.



ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT LOKAL ETNIS MELAYU DI KABUPATEN BANGKA SELATAN

 

 

 

DAYU PUSPITA SARI

2031511008

 

 

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains pada

Program Studi Biologi

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN, PERIKANAN DAN BIOLOGI

UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG

2019

 


 

ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT LOKAL ETNIS MELAYU DI KABUPATEN BANGKA SELATAN

 

 

Oleh

DAYU PUSPITA SARI

2031511008

 

 

Telah diterima sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan memperoleh gelar Sarjana Sains

Pembimbing Utama

 

 

 

Henri, S.Si., M.Si.

Pembimbing Pendamping

 

 

 

Prof. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D.

                                                                          

Balunijuk, Desember 2019

Dekan

Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi

Universitas Bangka Belitung

 

 

 

Dr. Tri Lestari, S.P., M.Si.

 

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Skripsi   : Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Etnis Melayu                                   di Kabupaten Bangka Selatan

Nama               : Dayu Puspita Sari

Nim                 : 2031511008

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan majelis penguji pada hari Senin, tanggal 9 Desember 2019 dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains.

Komisi Penguji

Ketua             :

Budi Afriyansyah, S.Si., M.Si.

(.................................)

Anggota 1      :

Henri, S.Si., M.Si.

(.................................)

Anggota 2      :

Prof. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D.

(.................................)

Anggota 3      :

Nur Annis Hidayati, S.Si., M.Sc.

(.................................)

 

                                                                                    Balunijuk, Desember 2019

Mengetahui

Ketua Program Studi Biologi

 

 

  Dr. Eddy Nurtjahya, M.Sc

 

 

Tanggal Lulus :

ABSTRAK

Dayu Puspita Sari (2031511008). Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Etnis Melayu di Kabupaten Bangka Selatan. Dibawah bimbingan Henri, S.Si., M.Si. dan Prof. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D.

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal di Kabupaten Bangka Selatan sudah dikenal dan diterapkan di kehidupan sehari-hari tetapi informasi mengenai data tumbuhan yang berpotensi sebagai obat hingga saat ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan obat, menganalisis pemanfaatan tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional dan mengetahui upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal etnis melayu di Kabupaten Bangka Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2019 di Kabupaten Bangka Selatan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara dan identifikasi tumbuhan. Data dianalisis secara statistic ethnomedicinal kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 117 spesies dengan 57 famili yang digunakan sebagai tumbuhan obat, tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu tanaman pinang (Areca catechu) dengan hasil Use Value berjumlah (0,16), Fidelity Level (16,22) dan Relative Frequency Citation (0,004). Pada nilai penting famili (FIV) yang paling banyak digunakan yaitu famili Myrtaceae dengan 9 spesies, nilai ICF yang paling tinggi pada kategori gangguan otot dan tulang sedangkan yang paling rendah pada kategori (penyakit kuku, kulit & rambut) dan (gangguan kemih). Upaya konservasi terhadap tumbuhan obat di Bangka Selatan mencegah kerusakan hutan berupa penebangan pohon secara berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tumbuhan obat.

Kata kunci : Etnobotani, Tumbuhan Obat, Masyarakat Melayu


 

ABSTRACT

Dayu Puspita Sari (2031511008). Ethnobotany Medicinal Plants of Local Ethnic Malays in South Bangka Regency. Under the guidance of Henri, S.Si. and Prof. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D.

The people of South Bangka Regency have been well-known about their utilization of plant as a traditional medicine and applied it in their daily life, but the information about the potential plant as a medicine is still limited. This research is aimed to describe the types of medicinal herbs, analyzing the utilization of medical herbs used as a traditional medicine and discovering the conservational effort by the ethnic malay which is the local ethnic of South Bangka Regency. This research was conducted on July-October 2019 at South Bangka Regency. This research used quantitative method with field observation techniques, interviewing and species identification. The data was analyzed with statistic ethnomedicinal quantitative method. The result showed that there are 117 species of medicinal herbs with 57 family, the most frequently used species areca nut plant (Areca catechu) with the result of Use Value (0,16), Fidelity Level (16,22), and Relative Frequency Citation (0,004). On the important family value (FIV), the most frequently used is Myrtaceae family with 9 species, ICF values ​​were highest in the muscle and bone disorders category while the lowest were in the categories (nail, skin & hair disease) and (urinary disorders). Efforts to conserve medicinal plants in South Bangka prevent forest damage in the form of over-cutting trees will disturb the growth of medicinal plants.

Keywords: Ethnobotany, Medicinal Plants, Malay society

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya Skripsi penelitian berjudul Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Etnis Melayu Di Kabupaten Bangka Selatandapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan program Sarjana (S1) di Program Studi Biologi, Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi. Pada kesempatan ini Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1)      Tuhan Yang Maha Esa yang selalu membimbing, menguatkan, dan memberkati Penulis hingga dapat menyelesaikan Sarjana (S1) dan Skripsi ini.

2)      Kano dan Fatimah yang telah menjadi ayah dan ibu tercinta yang sangat hebat bagi Penulis.

3)      Pembimbing utama sekaligus “Ayah” di kehidupan kampus, Henri, S.Si., M.Si., yang dengan penuh kesabaran membimbing Penulis dari awal penelitian hingga saat ini.

 

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan Skripsi ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk memperbaiki penelitian di waktu yang akan datang.

 

 

Balunijuk,  Desember 2019

 

 

 

 

 Penulis

 


 

LEMBAR PERSEMBAHASAN

            Dengan segala puji syukur kepada Allah SWT atas doa dan dukungan dari orang-orang tercinta, sehingga saya bisa menyelesaikan studi di Jurusan Biologi, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung. Dengan rasa bangga dan bahagia saya bersyukur dan berterima kasih kepada:

v  Allah SWT yang telah memudahkan dalam membuat skripsi ini, atas izin dan rahmat-Nyalah maka skripsi ini dapat selesai pada waktunya.

v  Bapak dan Ibu saya, Bapak kandung saya (Kano), Bapak dirumah yang sudah sangat baik mendoakan dan bantu selama ini (Aryadi), Ibu (Fatimah), Kakak (Sandra), Adik (Zilla). Terima kasih telah mendoakan saya tiada henti dan memberikan dukungan secara material maupun non material dan terima kasih telah banyak berkorban dalam membantu selama penelitian dilapangan, karena itu terimalah persembahan bakti dan cintaku untuk kalian.

v  Keluarga besar nenek ku tercinta Ana Mahasar yang sudah banyak mendoakan saya dan selalu memberikan penyemangat ketika saya lagi merasa down.

v  Adik sepupu saya Adila, Maknga Yuyun, Kakak Suci dan teman saya Suprayadi yang sudah sangat membantu dalam proses penelitian saya.

v  Keluarga saya di Kecamatan Lepar Pongok, Kecamatan Pongok dan Kecamatan Pulau Besar khususnya di Desa Rajik dan yang sudah terlibat dalam penelitian saya yaitu seluruh masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan terima kasih sudah sangat membantu dalam penelitian saya dilapangan.

v  Ibu Anggraeni, S.Si., M.Si. selaku dosen Pembimbing Akademik yang sudah banyak membimbing saya dengan baik selama proses perkuliahan.

v  Bapak Henri, S.Si., M.Si. dan Bapak Prof. Luchman Hakim, S.Si., M.Agr.Sc.,Ph.D. selaku dosen Pembimbing Skripsi yang sudah sangat membantu dan juga sangat sabar membimbing saya dalam awal proses skripsi sampai dengan selesai.

v  Dosen dan staf yang ada di Jurusan Biologi yaitu Bapak Dr. Yulian Fakhrurrozi, M.Si., Bapak Dr. Eddy Nurtjahya, M.Sc., Bapak Budi Afriyansyah, S.Si., M.Si., Bapak Dr. Rahmad Lingga M.Si., Bapak Riko Irwanto, S.Pd., M.Sc., Ibu Eka Sari, S.Si., M.Si., Ibu Nur Annis Hidayati S.Si., M.Sc., Ibu Robika S.Si., M.Si., Ibu Novi Handayani, A.md., Ibu Siti Aminah, S.Si.

v  Kepada teman-teman seperjuangan Oktaviani, Cindy, Nelawati, Vitryany, Dera, Milusnawati, Ayu, dan seluruh teman angkatan 2015 terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya selama perkuliahan.

v  Kepada teman seperjuangan KKN Ratih, Rani, Putri, Sri, Fira, Oca, Diyar, Wahyu, Ilham, Wawan, Abang Armando, Ainul, Ari, Aldi, Arvi, Ecal, Indra, Lendra, Sarkawi, Toni, Tri (Zulfandi), Berrti, Tiara, Ria, Elsia, Efrilya, Amalia dan seluruh masyarakat Desa Pasir Putih Kecamatan Tukak Sadai Kabupaten Bangka Selatan terima kasih kerjasamanya selama KKN.

v  Kepada junjungan Jurusan Biologi dan Almamater saya terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL.. i

HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... vi

KATA PENGANTAR........................................................................................... ix

DAFTAR ISI......................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL.. xv

DAFTAR GAMBAR.. xvi

DAFTAR LAMPIRAN.. xvii

I. PENDAHULUAN.. 1

1.1 Latar Belakang. 1

1.2 Rumusan Masalah. 2

1.3 Tujuan Penelitian. 3

1.4 Manfaat Penelitian. 3

II. TINJAUAN PUSTAKA.. 4

2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Etnobotani 4

2.2 Kearifan Lokal Masyarakat 6

2.3 Prospek Etnobotani sebagai Obat 7

2.4 Tumbuhan Obat Tradisional 8

2.5 Jenis Tumbuhan Obat dan Kegunaannya. 9

2.6 Kendala Perkembangan Etnobotani 10

III. BAHAN DAN METODE.. 12

3.1 Waktu dan Tempat 12

......  3.1.1 Deskripsi Area Penelitian. 13

3.2 Alat dan Bahan. 13

3.3 Metode Pengumpulan Data. 14

3.3.1 Observasi Lapangan. 14

3.3.2 Teknik Pemilihan Informan. 14

3.3.3 Teknik Wawancara. 14

3.3.4 Identifikasi 15

3.4 Analisis Data. 16

3.4.1 ICF (Informant Consensus Faktor) 16

3.4.2 UV (Use Value) 17

3.4.3 FL (Fidelity Level) 17

3.4.4 RFC (Relative Frequency Citation) 17

3.4.5 Penyusunan Rumus Strategi Konservasi 18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.. 19

4.1 Hasil............................................................................................................ 19

...... 4.1.1 Demografi Responden di Kabupaten Bangka Selatan. 19

...... 4.1.2 Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Obat di Kabupaten Bangka Belitung. 20

      4.1.3 Nilai Penting Famili (FIV) pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan  28

      4.1.4 Kategori Jenis Penyakit pada Jumlah Informan yang menggunakannya dan Jumlah Jenis  29

      4.1.5 Tumbuhan Obat Berdasarkan Habitusnya. 30

      4.1.6 Bagian Tumbuhan yang Digunakan pada Tumbuhan Obat............... 30

      4.1.7 Cara Penyajian dan Penggunaan pada Tumbuhan Obat.................... 31

    4.1.7.1 Cara Penyiapan pada Tumbuhan Obat.................................... 31

    4.1.7.2 Cara Penggunaan pada Tumbuhan Obat................................. 32

      4.1.8 Upaya Konservasi Tumbuhan Obat 32

   4.1.8.1 Status Konservasi pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan         33

   4.1.8.2 Analisis Swot...................................................................... 33

4.2 Pembahasan................................................................................................ 36

4.2.1 Demografi Responden di Kabupaten Bangka Selatan..................... 36

4.2.2 Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Obat di Kabupaten Bangka Belitung            38

4.2.3 Nilai Penting Famili (FIV) pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan         40

4.2.4 Kategori Jenis Penyakit pada Jumlah Informan yang  menggunakannya dan Jumlah Jenis      41

4.2.5 Tumbuhan Obat Berdasarkan Habitusnya........................................ 42

4.2.6 Bagian Tumbuhan yang Digunakan pada Tumbuhan Obat.............. 43

4.2.7 Cara Penyiapan dan Penggunaan pada Tumbuhan Obat.................. 44

4.2.7.1 Cara Penyiapan pada Tumbuhan Obat................................... 44

4.2.7.2 Cara Penggunaan pada Tumbuhan Obat................................ 44

4.2.8 Upaya Konservasi Tumbuhan Obat.................................................. 45

4.2.8.1 Status Konservasi pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan            45

4.2.8.2 Analisis Swot......................................................................... 46

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN.. 47

DAFTAR PUSTAKA.. 48

LAMPIRAN.. 57

 

 


 

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Data Demografi Responden 19

Tabel 2 Indek Etnobotani Tumbuhan sebagai Obat di Kabupaten Bangka Selatan 20

Tabel 3 Nilai ICF Tumbuhan Obat dan Jenis Penyakit yang di Obati..................... 29

Tabel 4. Hasil Analisis SWOT.................................................................................. 34

Tabel 5. Hasil Analisis Matriks SWOT..................................................................... 35

 


 

TABEL GAMBAR

Gambar 1  Peta Lokasi Penelitian. 12

Gambar 2 Nilai Penting Famili (Family Importance Value) Tumbuhan Obat di   Wilayah Kabupaten Bangka Selatan............................................................................................................... 28

Gambar 3 Habitus pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan.............. 30

Gambar 4 Bagian Tumbuhan yang Digunakan...................................................... 30

Gambar 5 Cara Penyiapan pada Tumbuhan Obat.................................................. 31

Gambar 6 Cara Penggunaan pada Tumbuhan Obat............................................... 32

Gambar 7 Status Konservasi Tumbuhan Obat....................................................... 33

 

 


 

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Responden yang diwawancarai......................................................... 57

Lampiran 2 Jenis-jenis tumbuhan yang dijadikan obat......................................... 60

Lampiran 3. Herbarium Tumbuhan Obat.............................................................. 63

Lampiran 4. Kuesioner Penelitian......................................................................... 64

Lampiran 5. Data Analisis Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Obat di Kabupaten    Bangka Selatan            68


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Indonesia sebagai negara kepulauan yang tersusun dari pulau-pulau dengan jumlah lebih dari 17.000 pulau di sekitar garis khatulistiwa yang ditempati oleh berbagai macam suku bangsa serta adat istiadatnya (Ramdhan 2015). Kawasan yang memiliki luasan hutan tropis terkaya di dunia setelah Brazil ini menyimpan potensi hayati yang merupakan sumber pangan dan obat-obatan yang telah lama dimanfaatkan suku-suku tradisional (Kinho et al. 2011). Menurut Sopi & Tallan (2015), bahwa sumber pengobatan di Indonesia mencakup tiga sektor yang saling berhubungan, yaitu pengobatan rumah tangga atau pengobatan sendiri, pengobatan medis profesional, dan pengobatan tradisional.

Etnobotani merupakan suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan tumbuhan. Etnobotani selalu menggambarkan kaitan antara budaya masyarakat dengan kegunaan dari tumbuhan, bagaimana tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai untuk memberikan manfaat bagi manusia (Syafitri 2014). Etnobotani memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah terjadinya peningkatan laju kepunahan biodiversitas yang semakin meningkat (Hakim 2014). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia sekitar 75-90% masyarakat dunia tinggal di pedesaan masih menggantungkan dirinya terhadap tumbuhan obat sebagai pilihan utama dalam pengobatan dan merawat kesehatan (Hidayat 2012).  

            Kabupaten Bangka Selatan merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian selatan Pulau Bangka yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BPS Bangka Selatan 2018). Bangka Belitung memiliki  beberapa komposisi etnis, pada setiap etnis terdapat pula keragaman ciri khas yang mereka dapat di turun-temurun termasuk penggunaan tumbuhan obat. Tumbuhan merupakan sumber signifikan dari obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan berbagai kategori penyakit manusia (Irmawati 2016).

Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat tradisional pun diimplementasikan dengan cara yang cukup beragam dan pengobatan penyakit tertentu bisa dilakukan dengan cara berbeda dengan tumbuhan yang berbeda pula (Wahidah 2013).

            Di Kabupaten Bangka Selatan mayoritas penduduknya yang paling mendominasi yaitu pada etnis melayu.  Menurut pendapat Fadhilah (2019), bahwa suku melayu merupakan bagian dari kearifan lokal bangsa Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan obat.  Etnis melayu di Bangka Selatan masih banyak yang memanfaatkan tumbuhan yang dijadikan obat dan juga masih banyak yang mempercayai pengobat tradisional sebagai tempat untuk berobat.

            Penelitian tumbuhan obat di Kabupaten Bangka Selatan pernah dilakukan di Pulau Pongok, dimana diperoleh 72 jenis tumbuhan obat tradisional yang termasuk ke dalam 46 famili digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan anak usia dini. Jumlah jenis terbanyak berasal dari famili Poaceae dan jenis yang sering digunakan dalam proses pengobatan tersebut, yaitu kemenyan (Styrax benzoin) dan kelapa (Cocos nucifera) (Hafizoh 2016). Selain itu, 53 jenis  tumbuhan yang terdiri 31 famili digunakan sebagai obat tradisional untuk kesehatan pasca melahirkan. Jumlah jenis terbanyak berasal dari famili Lauraceae (Analisa 2018).

            Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal di Kabupaten Bangka Selatan sudah dikenal dan diterapkan di kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, informasi mengenai data tumbuhan, cara pengunaannya dan upaya konservasi tumbuhan yang berpotensi sebagai obat hingga saat ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, dalam mengetahui jenis tumbuhan obat tradisional di Kabupaten Bangka Selatan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai studi etnobotani tumbuhan obat. Hal ini dilakukan supaya pengetahuan tradisional yang ada saat ini tidak begitu saja hilang dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pertimbangan latar belakang permasalahan yang teridentifikasi di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini yaitu:

1.      Jenis-jenis tumbuhan apa saja yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu Kabupaten Bangka Selatan.

2.      Bagaimana penggunaan dan pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat lokal etnis melayu Kabupaten Bangka Selatan.

3.      Bagaimana mengupayakan konservasi tumbuhan obat yang dilakukan oleh masyarakat lokal etnis melayu Kabupaten Bangka Selatan.

1.3 Tujuan Penelitian

            Penelitian ini bertujuan untuk:

1.      Mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu Kabupaten Bangka Selatan.

2.      Menganalisis pemanfaatan tumbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat lokal etnis melayu Kabupaten Bangka Selatan.

3.      Mengetahui upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal etnis melayu Kabupaten Bangka Selatan.

1.4 Manfaat Penelitian

            Manfaat Penelitian mengenai etnobotani ini sangat penting dikarenakan dapat memberikan informasi kepada generasi muda dalam memanfaatkan tumbuhan dan juga untuk melestarikan tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai obat. Selain itu juga Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional juga dapat dijadikan pengobatan utama oleh masyarakat, melayu dikarenakan memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan pengobatan konvensional.

 


 

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Etnobotani

            Etnobotani sebagai salah satu disiplin ilmu cabang dari biologi dan dalam kajian-kajiannya sering kali melibatkan disiplin ilmu lainnya. Suatu disiplin etnobotani relatif baru walaupun praktek pemanfaatan tumbuhan telah dimulai sejak awal beradaban manusia, dalam perkembangannya disiplin etnobotani memiliki definisi sesuai sudut pandang praktisi yang beragam. Harshberger menggunakan kata Ethnobotany (selanjutnya akan ditulis etnobotani) untuk menekankan bahwa ilmu ini yang mengkaji sebuah hal yang terkait dengan dua objek, “ethno” dan “botany” yang menunjukkan secara jelas bahwa ilmu yang berkaitan secara etnik (suku bangsa) dan botani (tumbuhan) (Alexiades & Sheldon 1996, Cotton 1996, Carlson & Maffi 2004, Hakim 2014). Etnobotani adalah disiplin biologis yang membahas hubungan antara manusia dengan tumbuhan. Etnobotani merupakan studi tentang bagaimana manusia menggunakan tanaman asli dalam budaya dan agama (Shosan et al. 2014).     

            Etnobotani sebagai salah  satu bidang ilmu penting karena menelusuri perkembangannya kemanusiaan, bahkan peradaban yang paling kuno juga bergantung pada pertanian dan domestikasi dan penggunaan berbagai penghijauan, tumbuhan medis, dan juga kuliner. Kedisplinan ilmu etnobotani ini berkaitan dengan budaya, yaitu seperti kelompok etnis yang memberikan informasi tentang penggunaan masing-masing tanaman di lokasi atau di area mereka (Shosan et al. 2014). Berdasarkan pengertian di atas maka sangat jelas bahwa kajian-kajian etnobotani lebih mengarah pada aspek sosiokultur masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya tumbuh-tumbuhan. Aspek sosiokultur merupakan suatu hal yang bersifat sangat dinamis sehingga hal ini sangat berpengaruh pula terhadap dinamika pemanfaatan tumbuhan oleh kalangan etnik tertentu (Hisa et al. 2018).    

            Berdasarkan analisis ahli-ahli antropologi saat ini telah diterima suatu pendapat bahwa selama jaman Paleolitikum umat manusia hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan pangan. Manusia berburu menangkap ikan dan mengumpulkan apapun yang dapat digunakan sebagai sumber pangan secara aktif dan tidak ada bukti-bukti bahwa pada jaman Paleolitikum manusia melakukan pembudidayaan tumbuhan atau sumberdaya hayati lainnya. Pada jaman Paleolitikum akhir atau memasuki jaman Neolitikum awal, manusia mulai menggantikan cara hidupnya dengan cara bergerak dari satu tempat ketempat lain untuk berburu dan mengumpulkan sumberdaya makanan dianggap tidak efektif dan mempunyai resiko yang besar bagi keselamatan umat manusia (Hakim 2014).

            Pengetahuan etnobotani sangat penting bagi perencana pembangunan dan pengambilan kebijakan sebagai bagian dari pemecahan masalah pembangunan nasional, regional atau lokal. Pemahaman tentang etnobotani adalah sangat penting bagi penilaian sisi-sisi hubungan ekologis antara manusia dan ekosistem yang termanipulasi (Hakim 2014). Studi tentang hubungan manusia dan tumbuhan atau tanaman adalah domain etnobotani yang mempelajari peranan manusia dalam memahami hubungannya dengan lingkungan tempat mereka tinggal, baik di lingkungan masyarakat tradisional maupun masyarakat industri. Pada konteks hubungan manusia dan lingkungan alam pada dasarnya menyediakan sumberdaya agar dapat dimanfaatkan oleh penghuninya untuk kelangsungan hidup. Manusia sebagai bagian dari penghuni alam itu diketahui paling mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dibandingkan dengan makhluk lainnya (Walujo 2011).

            Manusia sebagai individu atau dalam kelompok secara bertahap tumbuh dan saling bergantung dengan perkembangan sosial dan budayanya. Semua ini disebabkan karena manusia memiliki daya cipta dan rasa. Berkat daya tersebut, manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Melalui daya itu pula maka manusia berupaya memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Pada gilirnya pengetahuan mereka bertambah dalam mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan pola pikir, perubahan lingkungan sosial, ekonomi dan ekologinya (Walujo 2011).

 

2.2 Kearifan Lokal Masyarakat

            Pengetahuan lokal masyarakat Sambori dalam mencari bahan obat dan pangan merupakan suatu bentuk kearifan karena pemanfaatannya sesuai dengan kaidah ekologi (Zulharman et al. 2015). Kearifan masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan obat terdiri dari tiga kategori yaitu cara mengambil bahan ramuan, cara meramu dan waktu mengkonsumsi ramuan, salah satu kearifan lokal dalam cara mengambil ramuan yaitu dari bagian tertentu tumbuhan (daun, batang, akar dan kulit) dan pengambilan bahan memiliki ukuran tertentu misalnya jumlah helai daun harus ganjil, daun yang mengarah keatas, ukuran bahan yang direbus 1 genggam dan warna kulit batang (terang/gelap), untuk pengambilan bahan sebaiknya di pagi hari sehingga masih segar. Kearifan lokal cara meramu yang sering diterapkan diantaranya adalah ramuan direbus hingga air rebusannya menjadi setengah gelas atau campuran ramuan harus menggunakan minyak kelapa murni, ada juga yang mengkombinasikan beberapa jenis bagian tumbuhan serta perlakuan sebelum diramu (Nurrani et al. 2015).

            Masyarakat tradisional di Sulawesi Utara yang bermukim di sekitar kawasan hutan telah banyak memanfaatkan sumberdaya hutan khususnya tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti keperluan pangan, bahan konstruksi rumah, dan lainnya begitu pula obat-obat tradisional, kayu bakar dan sebagainya. Masyarakat Sulawesi Utara memanfaatkan salah satu tumbuhan yaitu rumput tahi ayam (Ageratum conyzoides L.) kegunaan untuk pengobatan luka bakar dengan cara diambil daunnya yang muda, dibersihkan kemudian diremes-remes dan langsung ditempelkan pada bagian yang luka. Hal ini dibuktikan dengan kandungan ilmiah pada tumbuhan rumput tahi ayam (Ageratum conyzoides L.) yaitu herba mengandung asam amino, organacid, pectic sub-stance, minyak astiri kumarin, ageratochromene, friedelin, b-sitosterol, stigmasterol, tanin, sulfur, dan potassium chlorida (Kinho et al. 2011).

            Menurut penelitian Susiarti (2015), tumbuhan tali kuning (Anamirta cocculus) yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Pulau Seram, meskipun jarang untuk daerah lainnya namun merupakan salah satu tanaman asli tropika Asia yang berasal dari Indonesia yang dimanfaatkan sebagai bahan obat yang mengandung picrotoxin dan dimanfaatkan yang ada kaitannya dengan saraf. Pada bubuk kulit kayu langsat (Lansium domesticum) yang mengandung oleorsin sebagai tapal obat sengatan kalajengking selain obat diare dan juga pada tumbuhan Bacang (Mangifera foetida) yang dimanfaatkan yaitu pada kulit kayunya untuk pasca persalinan, jenis ini jarang dimanfaatkan untuk obat, ternyata kulit kayu jenis ini mengandung flavonoid, tannin, polifenol dan saponin.

            Pada masyarakat lokal di Pulau Wawonii Sulawesi Tenggara dalam pemanfaatan tumbuhan tanga-tanga (Jatropha curcas L.) digunakan sebagai obat penurun panas dengan cara diminum, terutama air rebusan biji, namun hal ini perlu penelitian lebih lanjut, misalnya pada dosis pemakaiannya karena mengingat minyak bijinya mengandung asam palmitik, asam stearik, asam oleik, asam linoleik dan senyawa racun ester berupa diterpen 12-deoxy-16 hydroxyphorbol (Rahayu et al. 2006).

           

2.3 Prospek Etnobotani Sebagai Obat

            Masyarakat sudah sejak lama mengenal tumbuhan obat. Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang berkhasiat obat yaitu untuk menghilangkan rasa sakit, meningkatkan daya tahan tubuh, membunuh bibit penyakit dan memperbaiki organ yang rusak serta menghambat pertumbuhan tidak normal seperti tumor dan kanker. Penggunaan tumbuhan obat sebagai obat ini sudah dilakukan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun sehingga tumbuhan obat dikenal sebagai tumbuhan obat nenek moyang. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi selanjutnya (Radam et al. 2016).

            Indonesia memiliki budaya pengobatan tradisional termasuk penggunaan tumbuhan obat sejak dulu dan dilestarikan secara turun temurun. Pemanfaatan dalam tanaman obat ini setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda, kelompok etnik tradisional di Indonesia mempunyai ciri-ciri dan jati diri budaya yang sudah jelas terdefinisi, sehingga diduga kemungkinan besar persepsi dan konsepsi masyarakat terhadap sumberdaya nabati di lingkungannya berbeda, termasuk dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional. Etnobotani juga menekankan bagaimana mengungkap keterkaitan budaya masyarakat dengan sumberdaya tumbuhan di lingkungannya secara langsung ataupun tidak langsung. Penekanan pada hubungan mendalam budaya manusia dengan alam nabati sekitarnya, mengutamakan persepsi dan konsepsi budaya kelompok masyarakat dalam mengatur sistem pengetahuan anggotanya menghadapi tumbuhan dan lingkungan hidupnya (Ibrahim 2016).

 

2.4 Tumbuhan Obat Tradisional

            Menurut Rahayu (2011), tumbuhan obat merupakan komponen penting dalam pengobatan tradisonal yang telah digunakan sejak lama di Indonesia. Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun dalam pencegahan penyakit. Penggunaan tumbuhan obat dalam penyembuhan adalah bentuk pengobatan tertua di dunia. Budaya di dunia memiliki sistem pengobatan tradisonal yang khas dan di setiap daerah dijumpai berbagai macam jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat (Mumi et al. 2012). Obat-obatan yang berasal dari bahan alam ini jauh lebih aman dan memiliki efek samping yang kecil atau bahkan tidak ada efek samping sama sekali untuk digunakan dari pada obat-obatan yang berasal dari bahan kimiawi. Pada saat ini dalam dunia kedokteran modern sering sekali ditemukan efek-efek negatif dari obat-obatan yang berbahan kimiawi, seperti halnya pada aspirin, nofalgin dan lain sebagainya (Ibrahim 2016).

            Saat ini upaya pengobatan dengan bahan-bahan alam berkembang pesat. Perkembangan pemanfaatan tumbuhan obat sangat prospektif ditinjau dari faktor pendukung seperti tersedianya sumberdaya hayati yang kaya dan beragam (Falah et al. 2013). Berbagai produk pangan maupun obat-obatan tidak bisa dianggap remeh, karena seperti yang sudah terjadi di berbagai negara pengetahuan tradisional ini biasanya menjadi dasar untuk pengembangan yang dilakukan oleh perusahaan besar (Litaay 2008).

 

2.5 Jenis Tumbuhan Obat dan Kegunaannya

            Berdasarkan penelitian Radam et al. (2016), bahwa ada 40 jenis tumbuhan yang dipergunakan sebagai obat oleh masyarakat Tanah Bumbu yaitu Jeruk nipis, nangka, belimbing, kelapa muda, jalukap, pare, seledri, belimbing wuluh, pudak stangel, daun kemangi, kangkung sungai, insulin, rambutan, cemplokan, pepaya, serunai, jelatang ayam, kumis kucing, sirih, cucur bebek, rumput salad, kejibeling, katapi suntul, halaban, terong pipit, karamunting duduk, pepaya, kastela laki, penawar sampai, bakau, nipah, alang-alang, jahe, kencur, kunyit, kamuna hirang, keladi sungai, kangkung laut, penisiilin, nangka. Bagian-bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah daun, kulit batang, akar, umbi/rimpang, getah, bunga, dan buah dan seluruh tumbuhan. Sebanyak 40 jenis tumbuhan tersebut ada 19 (47,5%) berupa tumbuhan liar dan 21 (52,5%) tumbuhan yang ditanam/dibudidayakan. Tumbuhan liar didapatkan di sekitar pekarangan rumah dan di hutan-hutan yang tidak jauh dari permukiman masyarakat.

            Jenis tumbuhan yaitu berupa jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dengan bagian yang dimanfaatkan berupa bunga/buah untuk dijadikan pengobatan penyakit menurunkan kolesterol menghilangkan bau badan, menyegarkan badan dan obat batuk TBC. Tumbuhan jalukap (Centella asiatica) bagian yang dimanfaatkan yaitu daun untuk dijadikan obat batuk, bersih darah, melancarkan peredaran darah, penurun panas, menghentikan pendarahan dan anti bakteri. Tumbuhan pare (Momordica charantia) bagian yang dimanfaatkan yaitu daunnya untuk mengeluarkan dahak. Tumbuhan katapi suntul (Sandoricum koetjape Merr) bagian yang dimanfaatkan yaitu kulit batang untuk mengobati sakit perut dan asam urat. Tumbuhan halaban (Vitex pubescens) bagian yang dimanfaatkan yaitu kulit batang untuk mengobati stroke. Tumbuhan terong pipit (Solanum torvum) bagian yang dimanfaatkan yaitu akar untuk mengobati stroke. Tumbuhan jahe (Zingiber officinale Rosc.) bagian yang dimanfaatkan yaitu Rimpang untuk menghangatkan badan, mengobati sakit pinggang, asma, muntah, mengembalikan stamina dan nyeri otot. Tumbuhan keladi sungai (Caladium sp.) bagian yang dimanfaatkan yaitu getah untuk mengobati luka (Radam et al. 2016).  

            Terdapat 22 jenis tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan secara tradisional ada satu jenis tumbuhan dapat mengobati beberapa penyakit dan ada pula lebih dari satu jenis dapat mengobati penyakit yang sama. Mengobati sakit perut terdapat 4 jenis tumbuhan yaitu bunga pisang raja, buah jambu wer, daun gorogo dan untuk mengobati sakit demam, gatal, pegel linu, dan rematik masing-masing terdapat 3 jenis tumbuhan. Pengobatan demam dapat digunakan bawang putih, kecubung, sawi hijau, pada penyakit gatal digunakan ceplukan, brojo lintang, kunyit dan sakit pegel linu digunakan brojo lintang, adas, jahe wono, pulosari (Witjoro et al. 2016).

Berdasarkan penelitian Witjoro et al. (2016), bahwa penggunaan obat-obatan secara tradisional yang dilakukan di Desa Kayukebek terutama untuk mengobati suatu penyakit yang masih tergolong ringan seperti pusing, pegel linu, batuk, rematik, sesak, gatal, darah tinggi, demam, sakit perut, sakit mata, sawan, luka, sakit gigi, cangkrang dan sakit perut. Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat yang banyak digunakan untuk pengobatan lima penyakit yaitu pusing (18,18%), linu (16,88%), batuk (15,58%), rematik (15,58%), dan sesak (14,29%).

 

2.6 Kendala Perkembangan Etnobotani

            Pada awal-awal perkembangan etnobotani, kebanyakan survei menaruh perhatian terhadap pengumpulan informasi jenis-jenis dan nama lokal dari tetumbuhan serta manfaatnya. Hal ini juga terkait dengan upaya masyarakat ilmu pengetahuan untuk melakukan dokumentasi secara tertulis akan kekayaan jenis tetumbuhan dan manfaatnya yang dikebanyakan daerah primitif dan tak tersentuh teknologi tidak terdokumentasi dengan baik. Saat ini terbukti bahwa banyak praktek-praktek pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat tradisional ternyata mempunyai nilai positif dalam pelestarian sumberdaya hayati dan lingkungan hidup (Hakim 2014).

Para ahli merasakan bahwa perkembangan etnobotani menghadapi beberapa kendala serius yaitu (a) adanya pandangan bahwa etnobotani bukanlah bagian dari ilmu inti (hardcore science), etnobotani tidak lebih sebagai sebuah soft subject; (b) seringkali diajarkan sebagai subjek yang dangkal dan lemah dalam orientasinya; (c) kurangnya mendapat perhatian dan dukungan dari disiplin ilmu lainnya, tidak diapresiasi dengan baik oleh peneliti, mahasiswa dan pemerintah; (d) kekurangan dana penelitian dan dukungan lainnya; (e) kekurangan mentor dan ahli-ahli yang berkompeten; (f) perkembangan teknologinya terkesan lambat; (g) gerakan masyarakat penggiat studi etnobotani masih lemah, terpisah-pisah dan kurang koordinasi jika dibandingkan dengan perkumpulan-perkumpulan ilmiah lainnya; (h) jaringan kerja antara penelitian, pemerintah dan masyarakat keuntungan finansial yang memadai dibandingkan riset terapan lainnya seperti biologi sel-molekuler, bioteknologi dan rekayasa hayati dan kedokteran (Hakim 2014).

            Menurut Hakim (2014), permasalahan yang seharusnya menjadi perhatian serius masyarakat etnobotani dunia. Tanggung jawab memecahkan dan mengeliminasi masalah tersebut tentunya harus menjadi perhatian masyarakat negara berkembang, terutama Indonesia dengan beragam suku bangsa dan kekayaan hayati yang melimpah. Bagi bangka Indonesia ini adalah sangat penting dalam kelangsungan hidup bangsa serta meningkatkan daya saing bangsa diera globalisasi, karena Indonesia mempunyai beragam suku bangsa yang berimplikasi kepada keragaman cara pemanfaatan tumbuhan.

 

 

 

 


 

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Waktu dan Tempat Penelitian

            Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2019. Penelitian pemanfaatan tumbuhan obat dilaksanakan di Kabupaten Bangka Selatan Kepulauan Bangka Belitung.

Penelitian dilaksanakan di 8 Kecamatan yang terdiri dari 16 Desa, yaitu :

1. Kecamatan Toboali (Desa Jeriji, Desa Serdang dan Desa Rindik);

2. Kecamatan Air Gegas (Desa Air Gegas, Desa Delas dan Desa Pergam);

3. Kecamatan Payung (Desa Payung dan Desa Malik Lama);

4. Kecamatan Kepulauan Pongok (Desa Pongok);

5. Kecamatan Lepar Pongok (Desa Tanjung Labu dan Desa Penutuk);

6. Kecamatan Pulau Besar (Desa Batu betumpang);

7. Kecamatan Simpang Rimba (Desa Rajik dan Desa Jelutung II);

8. Kecamatan Tukak Sadai (Desa Bukit Terap dan Desa Pasir Putih).

            Adapun peta lokasi kegiatan penelitian ini, seperti tersajii pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

 

3.1.1 Deskripsi Area Penelitian

            Secara geografis Kabupaten Bangka Selatan terletak pada 2°26¢27¢¢-3°5¢56¢¢ LS dan 107°14¢31¢¢-105°53¢09¢¢ BT. Berdasarkan data BPS Bangka Selatan (2018), secara administratif wilayah Kabupaten Bangka Selatan berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten/kota lainnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu:

·         Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah

·         Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Bangka

·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa

·         Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Gaspar

 

            Kabupaten Bangka Selatan memiliki luas wilayah sebesar 3.607.08 km2, dengan jumlah penduduk pada tahun 2018 sebesar 205.901 jiwa. Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Payung, Kecamatan Pulau Besar, Kecamatan Simpang Rimba, Kecamatan Toboali, Kecamatan Tukak Sadai, Kecamatan Air Gegas, Kecamatan Lepar Pongok, Kecamatan Kepulauan Pongok (BPS Bangka Selatan 2018).   

Kabupaten Bangka Selatan beriklim Tropis Tipe A dengan variasi curah hujan antara 0 hingga 397.6 mm. Memiliki suhu 23.6°C hingga 32.2°C, kelembaban antara 51 hingga 97%. Keadaan tanah memiliki pH 5 di dalamnya mengandung mineral biji timah dan bahan galian. Bentuk dan keadaan tanahnya terdiri 4% berbukit (Bukit Paku dan Bukit Permis), 51% berombak dan bergelombang, 20% lembah/datar sampai berombak, 25% rawa dan bencah/datar (BPS Bangka Selatan 2018).

 

3.2 Alat dan Bahan

            Alat yang digunakan pada penelitian yaitu untuk wawancara berupa alat tulis (buku, pena, pensil, penghapus) dan kamera, untuk pembuatan herbarium yaitu alkohol 70%, label gantung, kertas klip, koran bekas, kamera, material tumbuhan berupa koleksi tumbuhan dari lapangan, plastik dan oven, sedangkan objek penelitian yaitu masyarakat Kabupaten Bangka Selatan yang mempunyai pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan sebagai obat.

 

3.3  Metode Pengumpulan Data

            Pengumpulan data pengetahuan penduduk Kabupaten Bangka Selatan terhadap tumbuhan obat melalui tahap-tahap berikut:

3.3.1        Observasi Lapangan

                        Observasi di dalam penelitian digunakan sebagai salah satu teknik pengumpulan data melalui pencatatan secara sistematis terhadap tumbuhan obat yang diteliti (Reyes-Garcia et al. 2006). Peneliti ikut serta menjalanin kegiatan informan kunci yang berkaitan dengan pemanfaatan tumbuhan obat berupa cara penggunaannya. Pengamatan lapangan dilakukan di kediaman masyarakat, proses pengamatan didokumentasikan menggunakan kamera foto, lalu hasilnya dicatat.

3.3.2    Teknik Pemilihan Informan

Cara pemilihan informan dilakukan dengan mencari informan kunci dari masyarakat menggunakan metode snowball sampling (Ristoja 2012). Peneliti mendapatkan informan kunci melalui keterangan dari kepala desa yang mengetahui masyarakat sudah berpengalaman, penduduk asli dan melakukan praktik pengobatan yang menggunakan tumbuhan sebagai obat.

                        Teknik pemilihan desa dalam setiap kecamatan menggunakan metode purposive sampling yaitu berdasarkan pertimbangan dalam hal paling banyak yang menggunakan tumbuhan obat dan memiliki pengetahuan pengobatan tradisional.

                        Kategori dalam rentangan umur penduduk yang diwawancarai menurut Witjoro et al. (2016) yaitu:

·         17-30 tahun dikategorikan usia muda.

·         >30-45 tahun dikategorikan usia dewasa.

·         >45-49 tahun dikategorikan usia paruh baya.

·         >60 tahun dikategorikan usia tua.

3.3.3        Teknik Wawancara

            Data dikumpulkan menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang telah dipersiapkan atau sudah terstruktur dengan memperdalam pertanyaan terhadap responden. Berikut cara-cara mewawancarai informan di lapangan yaitu:

a.       Hal yang dilakukan pertama kali yaitu menanyakan kepada kepala desa untuk mengetahui informan yang bisa mengetahui atau informan yang sering melakukan pengobatan tradisional yang ada di desa tersebut.

b.      Setelah mendapatkan informan yang akan diwawancarai, memperkenalkan diri terlebih dahulu dan memberitahukan maksud dan tujuannya melakukan wawancara.

c.       Mulai memasuki pertanyaan identitas informan dan masuk kedalam pertanyaan yang ada di kuesioner untuk mengetahui pengetahuan terhadap informan

d.      Setelah selesai melakukan wawancara, maka dilanjutkan dengan menanyakan kepada informan kunci yang mengetahui masyakat bisa mengobati menggunakan tumbuhan obat agar mendapatkan informan kunci selanjutnya.

e.        Kemudian meminta izin kepada informan untuk mendokumentasikan informan tersebut.

f.       Setelah melakukan dokumentasi mengakhiri dengan baik dan tidak lupa untuk berterima kasih kepada informan yang bersedia diwawancarai.

3.3.4           Identifikasi

            Setelah melakukan pengambilan data melalui wawancara, kemudian pengambilan sampel tumbuhan obat yang ada di perkarangan rumah untuk dijadikan bukti dan difoto. Identifikasi dilakukan dengan melihat ciri morfologi yang ada pada setiap sampel tumbuhan obat dengan menggunakan beberapa sumber buku diantaranya: “Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Citeureup” (Badan POM RI 2009), “100 Top Tanaman Obat Indonesia” (Kemenkes RI 2011), “Formularium Ramuan Obat Tradisional Ramuan Etnomedisin” (Badan POM RI 2011), dan “Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid 1-II” (Heyne 1987). Berdasarkan hasil penelitian semua hasil yang didapatkan teridentifikasi dan sebagian tumbuhan dibuat herbarium untuk menambahkan koleksi yang ada di Herbarium Bangka Belitungense Universitas Bangka Belitung.

3.4 Analisis Data

Menurut (Kayani et al. 2015), menyatakan bahwa data yang dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap keberadaan tumbuhan obat, maka dianalisis dengan menggunakan indeks statistik etnomedisin kuantitatif. Etnomedisin merupakan salah satu bidang kajian etnobotani yang mengungkapkan pengetahuan lokal berbagai etnis dalam menjaga kesehatan atau cabang antropologi kesehatan yang membahas tentang asal mula penyakit dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakat tertentu (Wulandari 2018), sedangkan analisis kuantitatif merupakan analisis yang digunakan dalam penelitian etnobotani ini dengan menggunakan beberapa rumus sebagai berikut:

3.4.1 ICF (Informant Consensus Factor)

ICF yaitu untuk menganalisis tingkat kesepakatan antar informan dan tumbuhan yang akan digunakan dalam setiap kategori. Dihitung menggunakan rumus:

ICF = Nur – Nt (Nur – 1)

Dimana “Nur” mengacu pada jumlah total laporan penggunaan untuk setiap kategori penyakit dan “Nt” mengacu pada jumlah taksa yang dikategorikan oleh semua informan. Digunakan untuk menguji homogenitas pengetahuan tentang penggunaan spesies di kategori penyakit antara populasi. Hasil ICF dalam kisaran 0-1, dimana nilai rendah mendekati nilai (0) bahwa tumbuhan dipilih secara acak atau jika tidak ada pertukaran informasi tentang penggunaannya di antara informan. Sedangkan pada nilai tinggi mendekati nilai (1) diperoleh ketika ada yang terdefinisi dengan baik dalam kriteria seleksi dimasyarakat atau jika informasi itu pertukarkan antar informan (Gazzaneo et al. 2005)

3.4.2 UV (Use Value)

UV digunakan untuk menghitung kepentingan relatif dari tumbuhan berdasarkan jumlah orang yang mengutipnya, dihitung dengan menggunakan rumus:

UV = (SUi)/ N

Dimana “Ui” adalah jumlah laporan penggunaan spesies yang dikutip oleh setiap informan yang diberikan dan “n” mengacu pada jumlah total informan. UV tinggi ketika ada banyak jumlah laporan penggunaan spesies tumbuhan, menyiratkan bahwa tumbuhan itu berguna, sementara apabila mendekati 0 menunjukkan penggunaan yang dapat diabaikan (Samoisy & Mahomoodally 2016).

3.4.3 FL (Fidelity Level)

Dalam menentukan spesies yang paling disukai digunakan untuk mengobati dari penyakit tertentu menggunakan rumus:

FL=(NP/Nu) x 100

Dimana “NP” adalah jumlah informan yang menyebutkan tentang spesies dalam penggunaan tumbuhan tertentuk dan untuk penyakit tertentu, Nu” adalah jumlah total semua informan yang melaporkan semua kegunaan tentang spesies tumbuhan tertentu (Al-Qura`an 2009).

3.4.4 RFC (Relative Frequency Citation)

RFC digunakan untuk menentukan tanaman yang paling sering digunakan dan tanaman yang paling disukai. RFC menggunakan rumus sebagai berikut:

RFC= FC/N

Indeks ini menunjukkan pentingnya setiap spesies lokal yang diberikan oleh FC (Frekuensi Kutipan), jumlah informan menyebutkan penggunaan spesies dibagi dengan jumlah total informan yang berpartisipasi dalam survei (N), tanpa mempertimbangkan dalam menggunakan kategori (Tardio & Santayana 2008).

3.4.5 Penyusunan Rumusan Strategi Konservasi

 Rumusan strategi konservasi menggunakan data potensi sumber daya        tumbuhan obat mulai dari jenis-jenis pada tingkat pemanfaatan oleh masyarakat yang digabungkan persepsi dari masyarakat. Analisis dilakukan menggunakan analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities dan Threats) yang dimasukan kedalam matriks SWOT untuk mendapatkan kesepakatan bersama dalam merumuskan strategi yang baik. Matriks SWOT merupakan perangkat pencocokan penting untuk mengembangkan 4 tipe strategi yaitu SO (Strenght-Opportunities), strategi ST (Strenght-Threats), strategi WO (Weakness-Opportunities) dan strategi WT (Weakness-Threats), tujuan dari setiap perangkat kecocokan untuk menghasilkan strategi pengembangan tumbuhan obat (Astuti et al. 2018). Hasil wawancara yang didapatkan dari masyarakat dalam penelitian ini juga dilakukan menggunakan  analisis deskriptif kualitatif untuk menjadi rumusan strategi konservasi tumbuhan obat (Henri et al. 2018).


 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1  Demografi Responden

          Masyarakat melayu yang ada di Kabupaten Bangka Selatan memiliki sosial budaya yang sampai sekarang masih memanfaatkan tumbuhan yang bisa dijadikan obat walaupun generasi-generasi muda tidak banyak yang ingin menurunkan pengetahuan terhadap pelestarian tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat, karena generasi sekarang dengan mudah dalam mengakses secara praktis.

          Berdasarkan pada Tabel 1. Jumlah total laporan informan dalam penelitian sebanyak 37 responden yang terdiri dari 2 kategori informan yaitu pengobatan tradisional sebanyak 33 orang (89,19%) dan masyarakat lokal sebanyak 4 orang (10,81%).

Tabel 1. Data Demografi Responden

No.

Variabel

Kategori

Jumlah Informan (Orang)

Persentase (%)

1

Kategori Informan

Pengobat Tradisional

33

89,19

Masyarakat Lokal

4

10,81

2

Jenis Kelamin

Perempuan

5

13,51

Laki-Laki

32

86,49

3

Umur

>30-45

3

8,11

>45-59

11

29,73

>60

23

62,16

4

Latar Belakang Pendidikan

SD

35

94,59

SMA/MA

2

5,41

5

Pengalaman Praktisi

2-5 tahun

5

13,51

5-10 tahun

5

13,51

10-20 tahun

20

54,05

>20 tahun

7

18,92


4.1.2   Pemanfataan Tumbuhan sebagai Obat di Kabupaten Bangka Selatan

            Pengetahuan masyarakat melayu di Kabupaten Bangka Selatan sangat baik karena tumbuhan yang bisa dijadikan obat masih dimanfaatkan oleh orang tua dan lebih dipercayai dalam pengobatan secara tradisional. Berdasarkan Tabel 2. Hasil analisis pemanfaatan tumbuhan sebagai obat di Kabupaten Bangka Selatan terdapat 117 spesies dengan 57 famili.

Tabel 2. Indek Etnobotani Tumbuhan sebagai Obat di Kabupaten Bangka Selatan

 

No.

Famili

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Jenis Penyakit

Habitus

UV

FL

RFC

1

Acanthaceae

Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees

Samiloto

Malaria

Perdu

0,03

2,70

0,001

Avicennia germinans (L.) L.

Kayu Api

Penyakit laki

Perdu

0,03

2,70

0,001

2

Anacardiaceae

Gluta velutina Blume

Mengkiker

Keputihan

Perdu

0,03

2,70

0,001

3

Ancistrocladaceae

Ancistrocladus tectorius (Lour.) Merr

Terung Blus

Bengkak

Liana

0,03

2,70

0,001

4

Annonaceae

Annona muricata L

Nangka Belanda

Haid tidak lancar, Darah tinggi, Tumor

Pohon

0,08

8,11

0,002

Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson

Kenanga

Panau kembang

Pohon

0,05

5,41

0,001

Polyalthia cauliflora Hook.f. & Thomson

Bumbun

Bengkak perut

Pohon

0,03

2,70

0,001

5

Apiaceae

Centella asiatica (L.) Urb

Pegagan

Setelah Melahirkan

Herba

0,03

2,70

0,001

Coriandrum sativum L

Ketumbar

Setelah Melahirkan

Herba

0,05

5,41

0,001

6

Apocynaceae

Alstonia scholaris (L.) R. Br.

Pulai

Sertung, Darah manis, Malaria

Pohon

0,08

8,11

0,002

Tabernaemontana pauciflora Blume

Pisang Tikus

Bengek (Jere)

Perdu

0,05

5,41

0,001

Plumeria alba L

Kamboja

Panau kembang

Perdu

0,03

2,70

0,001

7

Araliaceae

Arthrophyllum diversifolium Blume

Jeluk Antu Laki

Bengkak perut, Darah tinggi,

Pohon

0,08

8,11

0,002

8

Arecaceae

Areca catechu L

Pinang

Panau kembang, Kayap, Bengkak perut, Sakit Kepala, Lambung

Pohon

0,16

16,22

0,004

Cocos nucifera L

Kelapa Hijau

Penyakit kuning, Panau kembang, Bengkak perut, Malaria

Pohon

0,11

10,81

0,003

Daemonorops angustifolius  Mart

Rotan Nanggak

Raja cacing

Liana

0,03

2,70

0,001

9

Asteraceae

Ageratum conyzoides (L.) L

Rumput Tahi Ayam

Susah buang air besar & kecil, Segugut

Herba

0,05

5,41

0,001

Gynura procumbens (Lour.) Merr.

Kesembung

Setelah melahirkan

Herba

0,03

2,70

0,001

10

Balsaminaceae

Impatiens balsamina L

Pacar Air

Panau kembang

Herba

0,03

2,70

0,001

11

Caricaceae

Carica papaya L

Katis Rambai

Tamar, Sakit kencing

Herba

0,05

5,41

0,001

12

Combretaceae

Terminalia catappa L

Ketapang

Lambung

Pohon

0,03

2,70

0,001

13

Convolvulaceae

Ipomoea aquatica Forssk

Kangkung

Amandel

Herba

0,03

2,70

0,001

14

Crassulaceae

Kalanchoe pinnata (Lam.) Pers

Cocor Bebek

Penurun panas

Herba

0,03

2,70

0,001

15

Cucurbitaceae

Cucurbita maxima Duchesne

Labu

Malaria

Liana

0,03

2,70

0,001

Lagenaria siceraria (Molina) Standl

Labu Air

Tipes

Liana

0,03

2,70

0,001

16

Cyperaceae

Scirpodendron ghaeri (Gaertn.) Merr.

Sesayat

Didir

Herba

0,03

2,70

0,001

Scleria melaleuca Rchb. ex Schltdl. & Cham.

Tenam Batu

Bengkak perut

Herba

0,03

2,70

0,001

17

Dilleniaceae

Dillenia eximia Miq

Simpur Laki

Setelah melahirkan, Raja cacing, Keputihan, Tumor

Pohon

0,11

10,81

0,003

18

Ebenaceae

Diospyros kaki L.f.

Heletup Bulu

Bengkak, Keputihan

Pohon

0,05

5,41

0,001

19

Euphorbiaceae

Aleurites moluccanus (L.) Willd

Kemiri

Lambung

Pohon

0,05

5,41

0,001

Mallotus barbatus Mull.Agr

Balek Angen

Bujang beguyur, Didir

Pohon

0,08

8,11

0,002

Suregada glomerulata (Blume) Baill

Pialu

Kurang nafsu makan

Pohon

0,03

2,70

0,001

20

Fabaceae (Leguminosae)

Parkia speciosa Hassk

Petai

Kayap

Pohon

0,03

2,70

0,001

Pongamia pinnata (L.) Pierre

Mabai

Kurak

Pohon

0,03

2,70

0,001

Senna alata (L.) Roxb

Ketepeng

Panau, Didir

Perdu

0,05

5,41

0,001

Tamarindus indica L

Asam Jawa

Darah tinggi

Pohon

0,05

5,41

0,001

21

Fagaceae

Quercus rajah Hance.

Kerangkai

Didir

Pohon

0,03

2,70

0,001

22

Gnetaceae

Gnetum gnemon L

Belinjo

Sariawan

Pohon

0,03

2,70

0,001

23

Lamiaceae

Callicarpa candicans (Burm.f.) Hochr

Kelingka

Sakit perut

Perdu

0,05

5,41

0,001

Orthosiphon aristatus (Blume) Miq

Kumis Kucing

Penyakit kuning, Diabetes

Herba

0,05

5,41

0,001

Vitex pinnata L

Leben

Tumor

Pohon

0,03

2,70

0,001

24

Lauraceae

Litsea cubeba (Lour.) Pers.

Medang Resak

Setelah melahirkan

 

Pohon

0,08

8,11

0,002

Litsea glutinosa (Lour.) C.B.Rob.

Medang Radak

Didir, Balek angen

Pohon

0,05

5,41

0,001

Litsea resinosa Blume

Medang

Gatel, Setelah melahirkan

Pohon

0,05

5,41

0,001

Phoebe excelsa (Blume) Nees

Medang Sang

Setelah melahirkan

Pohon

0,11

10,81

0,003

25

Leguminosae

Saraca asoca (Roxb.) Willd

Asoka

Panau kembang

Perdu

0,03

2,70

0,001

26

Linaceae

Ixonanthes grandiflora Hochr

Jurong

Keputihan, Sakit kepala

Pohon

0,05

5,41

0,001

27

Lythraceae

Punica granatum L

Delima

Gatel

Pohon

0,03

2,70

0,001

Sonneratia ovata Backer

Terancap Perpat

Kurak

Perdu

0,03

2,70

0,001

28

Malvaceae

Hibiscus rosa-sinensis L

Kembang Sepatu

Panau kembang, Penurun panas

Perdu

0,11

10,81

0,003

Microcos tomentosa Sm

Kepeletut

Sakit kepala

Pohon

0,03

2,70

0,001

29

Melastomataceae

Melastoma malabathricum L

Keletak/Keremunting

Tumor, Raja cacing, Sakit perut, Tamar

Herba

0,11

10,81

0,003

30

Meliaceae

Lansium parasiticum (Osbeck) K.C.Sahni & Bennet

Duku

Sakit gigi

Pohon

0,03

2,70

0,001

31

Menispermaceae

Tinospora tuberculata Beumée ex K.Heyne

Krotowali

Malaria

Perdu

0,03

2,70

0,001

32

Moraceae

Artocarpus heterophyllus Lam

Nangka Bubur/Nangka Belulang

Tamar, Bengkak, Tumor, Segugut, Bengkak perut

Pohon

0,14

13,51

0,004

Ficus carica L.

Kayu Are

Tamar, Kayap

Liana

0,05

5,41

0,001

33

Musaceae

Musa paradisiaca L

Pisang

Setelah melahirkan

Herba

0,03

2,70

0,001

Musa sapientum L.

Pisang Raja

Ambeyen

Herba

0,03

2,70

0,001

34

Myrtaceae

Baeckea frutescens L.

Sapu-sapu

Penurun panas

Perdu

0,03

2,70

0,001

Eugenia lepidocarpa Wall. ex Kurz

Hamak

Sakit perut, Setelah melahirkan

Pohon

0,05

5,41

0,001

Eugenia polyantha Barb. Rodr.

Serai Kayu

Diabetes, Kadar gula

Pohon

0,05

5,41

0,001

Melaleuca leucadendra (L.) L.

Gelem Tikus

BAB lendir

Pohon

0,03

2,70

0,001

Psidium guajava L

Jambu Biji

Sakit perut

Pohon

0,11

10,81

0,003

Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry

Cengkeh

Setelah melahirkan

Pohon

0,03

2,70

0,001

Syzygium cumini (L.) Skeels

Sisil Ayam

Ambeyen, Setelah melahirkan

Pohon

0,05

5,41

0,001

Syzygium pycnanthum Merr. & L.M.Perry

Jambu Hutan

Bengkak perut, Sakit gigi

Pohon

0,05

5,41

0,001

Syzygium zeylanicum (L.) DC

Bebeti

Didir, Balek angen, Bengkak perut

Pohon

0,08

8,11

0,002

35

Nepenthaceae

Nepenthes gracilis Korth

Ketakung

Harak, Bujang beguyur

Liana

0,05

5,41

0,001

36

Nyctaginaceae

Bougainvillea berberidifolia Heimerl

Bunga Kertas

Panau kembang

Herba

0,03

2,70

0,001

37

Oleaceae

Jasminum abyssinicum Hochst. ex DC

Melati

Panau kembang

Perdu

0,03

2,70

0,001

Jasminum sambac (L.) Aiton

Melati Hutan

Bujang beguyur, Sebayak

Perdu

0,05

5,41

0,001

38

Oxalidaceae

Oxalis barrelieri L

Sesuap

Batuk

Perdu

0,05

5,41

0,001

39

Pandaceae

Galearia filiformis (Blume) Boerl.

Kayu Tue

Bengkak

Perdu

0,03

2,70

0,001

40

Pandanaceae

Pandanus odorifer (Forssk.) Kuntze

Pandan Laut

Kurak

Perdu

0,03

2,70

0,001

41

Pentaphylacaceae

Adinandra dumosa Jack

Pelempang Putih

Keputihan

Pohon

0,03

2,70

0,001

Adinandra sarosanthera Miq

Pelempang Hitam

Keputihan, Setelah melahirkan

Pohon

0,05

5,41

0,001

Eurya nitida Korth

Sesala

Sakit kepala

Perdu

0,03

2,70

0,001

42

Phyllanthaceae

Aporosa octandra (Buch.-Ham. ex D.Don) Vickery

Pelangas

Sakit kepala

Pohon

0,08

8,11

0,002

Baccaurea lanceolata (Miq.) Müll.Arg

Kayu Lunding

Penyakit budak

Pohon

0,03

2,70

0,001

Glochidion ferdinandii (Müll.Arg.) F.M.Bailey

Ambong-ambong

Kurak

Pohon

0,03

2,70

0,001

43

Piperaceae

Piper retrofractum Vahl

Sireh Licin

Setelah melahirkan

Liana

0,03

2,70

0,001

Piper betle L

Sireh

Gila babi, Keputihan

Liana

0,05

5,41

0,001

Piper nigrum L

Sahang

Sakit gigi, Setelah melahirkan, Kemasukan lintah

Liana

0,11

10,81

0,003

Piper crocatum Ruiz & Pav.

Sirih Merah

Darah manis

Liana

0,03

2,70

0,001

44

Poaceae

Bambusa vulgaris Schrad

Bambu Kuning

Penyakit kuning

Perdu

0,03

2,70

0,001

Coix lacryma-jobi L

Jelai Batu

Tamar, Sakit kencing, Amandel, Darah tinggi

Herba

0,11

10,81

0,003

Cymbopogon nardus (L.) Rendle

Serai Tanah

Tulang keropos, Lemas tulang, Keputihan

Herba

0,08

8,11

0,002

Imperata cylindrica (L.) Raeusch

Lalang

Penyakit kuning, Raja cacing, Penurun panas

Herba

0,08

8,11

0,002

Oryza sativa L

Padi

Amandel

Herba

0,03

2,70

0,001

Panicum abscissum Swallen

Kerupit/Kerupit Berisi

Bengkak perut

Herba

0,05

5,41

0,001

Panicum aciculare Desv

Kerupit (Berbuah)

Raja cacing

Herba

0,03

2,70

0,001

Saccharum officinarum L

Tebu

Setelah melahirkan

Perdu

0,03

2,70

0,001

45

Polypodiaceae

Drynaria quercifolia (L.) J. Sm.

Hekayar

Bengkak (menduleng)

Liana

0,03

2,70

0,001

46

Primulaceae

Ardisia crispa (Thunb.) A.DC.

Mate Ayam/Mate Pelanduk

Setelah melahirkan

Perdu

0,14

13,51

0,004

47

Rhizophoraceae

Rhizophora apiculata Blume

Bakau

Bengkak perut, Harak

Pohon

0,05

5,41

0,001

48

Rosaceae

Prunus avium (L.) L

Ceri

Darah manis

Pohon

0,03

2,70

0,001

Prunus cerasus L

Ceri Merah

Darah tinggi

Pohon

0,03

2,70

0,001

49

Rubiaceae

Gardenia jasminoides J.Ellis

Kembang Peca Pireng

Bujang beguyur

Perdu

0,03

2,70

0,001

Morinda citrifolia L

Mengkudu

Darah tinggi, Bujang beguyur

Pohon

0,05

5,41

0,001

Mussaenda pubescens Dryand

Balik Adap

Raja cacing, Setelah melahirkan

Perdu

0,03

2,70

0,001

Uncaria gambir (Hunter) Roxb

Gambir

Lambung

Pohon

0,03

2,70

0,001

Psychotria viridiflora Reinw. ex Blume

Tenam

Raja cacing, Setelah melahirkan

Pohon

0,05

5,41

0,001

50

Rutaceae

Citrus aurantiifolia (Christm.) Swingle

Jeruk Nipis

Penurun panas, Pening kepala, Gatel

Perdu

0,08

8,11

0,002

51

Salicaceae

Flacourtia rukam Zoll. & Moritzi

Rukam

Lambung, Bengkak perut, Sakit kepala, Setelah melahirkan

Pohon

0,11

10,81

0,003

52

Sapindaceae

Guioa pleuropteris (Blume) Radlk

Ulas

Bengkak

Pohon

0,03

2,70

0,001

53

Simaroubaceae

Brucea javanica (L.) Merr

Poipo

Kadar gula

Pohon

0,03

2,70

0,001

Eurycoma longifolia Jack

Pasek Bumi

Segugut

Perdu

0,03

2,70

0,001

54

Solanaceae

Capsicum annuum L

Cabe

Kayap, Tumor

Herba

0,05

5,41

0,001

Solanum lasiocarpum Dunal

Terung Asam

Bengkak, Bengkak perut, Tumor

Herba

0,08

8,11

0,002

Solanum torvum Sw.

Terung Kepinit

Sakit kencing

Herba

0,03

2,70

0,001

Physalis angulata L.

Kecepuk

Sakit gigi

Herba

0,03

2,70

0,001

55

Thelypteridaceae

Sphaerostephanos arbuscula (Willd.) Holttum

Ideng-ideng

Bengkak (buak)

Herba

0,03

2,70

0,001

56

Thymelaeaceae

Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl

Mahkota Dewa

Setruk

Perdu

0,03

2,70

0,001

57

Zingiberaceae

Alpinia galanga (L.) Willd

Laos

Sertung, Setelah melahirkan

Herba

0,05

5,41

0,001

Curcuma longa L

Kunyit

Kayap, Setelah melahirkan, Membekar angin

Herba

0,11

10,81

0,003

Kaempferia galanga L

Cengkur

Membekar angin

Herba

0,03

2,70

0,001

Zingiber officinale Roscoe

Jahe

Membekar angin

Herba

0,03

2,70

0,001


4.1.3 Nilai Penting Famili (Family Importance Value) Tumbuhan Obat di Bangka Selatan

          Berdasarkan Gambar 2. Jumlah total famili pada tumbuhan obat yaitu 57 famili yang di manfaatkan oleh masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan. Famili yang paling banyak digunakan yaitu pada famili Myrtaceae yang berjumlah 9 jenis, famili  Poaceae sebanyak 8 jenis dan Rubiaceae yang berjumlah 5 jenis.

Gambar 2. Nilai Penting Famili (Family Importance Value) Tumbuhan Obat di       Wilayah Kabupaten Bangka Selatan.

 

 

 

 

 

 

4.1.4 Kategori jenis penyakit pada jumlah informan yang menggunakannya            dan jumlah jenis

          Berdasarkan Tabel 3. Pada nilai ICF tumbuhan obat dan jenis penyakit yang diobati di Kabupaten Bangka Selatan terdapat 10 kategori jenis penyakit. Nilai ICF yang paling tinggi yaitu 0,33 pada kategori gangguan otot dan tulang sedangkan nilai ICF yang paling rendah yaitu 0 dengan kategori (penyakit kuku, kulit & rambut) dan (gangguan kemih). Berikut tabel kategori penyakit berdasarkan sumber (Kayani 2015).

Tabel 3. Nilai ICF Tumbuhan Obat dan Jenis Penyakit yang Diobati

No.

Kategori Penyakit

S Informan yang Melaporkan Penggunaannya

Persentase (%)

S Jenis

Persentase (%)

ICF

1.

Kelainan kelenjar

31

14,8

26

15,5

0,17

2.

Penyakit Pernapasan

7

3,3

6

3,6

0,17

3.

Gangguan saraf

15

7,2

13

7,7

0,14

4.

Pemberi energi tubuh

35

16,7

27

16,1

0,24

5.

Penyakit seksual

46

22,0

32

19,0

0,31

6.

Gangguan kardiovaskular

7

3,3

6

3,6

0,17

7.

Penyakit kuku, kulit dan rambut

9

4,3

9

5,4

0

8.

Gangguan pencernaan

52

24,9

43

25,6

0,18

9.

Gangguan kemih

3

1,4

3

1,8

0

10.

Gangguan otot dan tulang

4

1,9

3

1,8

0,33

4.1.5  Tumbuhan Obat Berdasarkan Habitusnya

          Berdasarkan Gambar 3. Pada habitus tumbuhan obat yang didapatkan di Kabupaten Bangka Selatan yaitu mulai dari pohon, perdu, herba dan liana. Habitus yang paling banyak yaitu pada pohon sebanyak 43,48%, Herba sebanyak 26,09%, Perdu sebanyak 22,61% dan Liana yang paling sedikit yaitu sebanyak 9,57%.

Gambar 3. Habitus Pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan

4.1.6   Bagian Tumbuhan yang Digunakan pada Tumbuhan Obat

          Berdasarkan Gambar 4. bagian tumbuhan yang digunakan pada tumbuhan obat di Kabupaten Bangka Selatan yaitu Daun, Akar, Umbi akar, Batang, Buah, Bunga, Kulit batang, Pucuk, Biji dan lainnya (Rebung, Pelepah, Getah, Pati dan Air).

Gambar 4. Bagian Tumbuhan yang digunakan

4.1.7 Cara Penyiapan dan Penggunaannya pada Tumbuhan Obat

4.1.7.1 Cara Penyiapan pada Tumbuhan Obat

          Berdasarkan Gambar 5. cara penyiapan tumbuhan obat yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Bangka Selatan dengan berbagai macam yaitu, direbus, ditumbuk, dibakar, dibikin jus, dan lainnya (dibungkus tanah dapur). Cara penyiapan yang paling dominan dengan cara di rebus sebanyak 149 jenis tumbuhan dan yang paling sedikit dengan cara di bungkus yaitu tanah dapur yang masih terasa panas lalu dimasukan kedalam daun pisang setelah itu di tempel dibagian penyakitnya.

Gambar 5. Cara Penyiapan Tumbuhan Obat

 

 

 

 

4.1.7.2 Cara Penggunaan pada Tumbuhan Obat

            Berdasarkan Gambar 6. Cara penggunaannya pada tumbuhan obat yang ada di Kabupaten Bangka Selatan yaitu dengan cara diguyur, diminum, Dioles, digosok dan dimakan. Cara penggunaannya paling banyak yaitu dengan cara diguyur.

Gambar 6. Cara Penggunaannya Tumbuhan Obat

4.1.8 Upaya Konservasi Tumbuhan Obat

          Pengetahuan tumbuhan obat masyarakat lokal Kabupaten Bangka Selatan bisa dijadikan sebagai salah satu upaya konservasi, pada hasil wawancara bahwa masyarakat lokal tidak banyak yang melakukan pembudidayaan tumbuhan obat diperkarangan rumah, sebagian besar masyarakat menyebutkan bahwa tumbuhan obat yang bisa diambil itu tumbuhan yang belum ada sentuhan manusia atau jauh dari aktifitas manusia dan tidak bisa dilakukan pembudidayaan karena cara pengambilan tumbuhan obat yang ada dihutan itu tidak sama dan ada teknik cara pengambilannya, salah satunya yaitu pengambilan tumbuhan dengan cara membelakangi matahari.

    4.1.8.1 Status Konservasi Berdasarkan IUCN Red List pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan            

          Berdasarkan Gambar 6. hasil status konservasi tumbuhan obat paling banyak pada LC (Least Concern) yang berjumlah 114 jenis, dan berjumlah 1 jenis pada DD (Data Deficient), NT (Near Threatened) dan EN (Endangered).

Gambar 7. Status Konservasi Tumbuhan Obat

4.1.8.2  Analisis SWOT

          Analisis SWOT dilakukan dengan cara menganalisis faktor internal dan eksternal pada upaya pemanfaatan konservasi tumbuhan obat. Faktor internal konservasi tumbuhan obat meliputi pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan obat dan pembudidayaan tumbuhan obat sangat rendah, sedangkan faktor eksternal potensi untuk pemasaran tumbuhan obat sangat besar peluang bagi masyarakat Kabupaten Bangka Selatan dan kerusakan hutan berupa penebangan liar dan pembukaan lahan yang berlebihan.        

          Menurut pendapat Andajani  et al. (2017), bahwa perencanaan strategi harus menganalisa faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam kondisi saat ini. Analisa SWOT menggambarkan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dan mampu memberikan solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi.

          Hasil analisis SWOT dilakukan dengan cara menganalisis faktor internal dan eksternal terhadap upaya konservasi tumbuhan obat yang ada di Kabupaten Bangka Selatan, sebagai berikut:

Tabel 4. Hasil Analisis SWOT

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Kekuatan (Strength)

1.      Kekayaan pengetahuan masyarakat lokal dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat tradisional yang sangat tinggi

2.      Kualitas dan khasiat tumbuhan obat yang sangat baik

Peluang (opportunity)

1.      Tumbuhan obat menjadi salah satu kekayaan pengetahuan dan menjadi salah satu obat alternatif yang bisa dikembangkan di masa mendatang

2.      Adanya gerakan masyarakat sadar kesehatan menjadikan tumbuhan obat sebagai alternatif pilihan untuk hidup sehat dengan meminimkan efek samping penggunaan obat-obatan kimia

Kelemahan (weakness)

1.      Masyarakat lokal kurang mengetahui secara spesifik kandungan apa yang terkandung dalam tumbuhan obat sehingga mengaplikasikan hanya berdasarkan pengalaman

2.      Tumbuhan obat belum dipasarkan secara komersial

Ancaman (threat)

1.      Minimnya pengetahuan generasi muda yang mengetahui tentang tumbuhan obat

2.      Tumbuhan obat akan terancam keberadaannya sebabkan adanya kerusakan hutan

            Matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh masyarakat untuk melakukan konservasi tumbuhan obat dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya terhadap tumbuhan obat.

Tabel 5. Hasil analisis matriks SWOT

Strategi

Strategi S-O

1.      Pengetahuan tumbuhan obat yang sangat tinggi akan menjadikan salah satu obat alternatif yang bisa dikembangkan di masa yang akan datang

2.      Tumbuhan obat memiliki kualitas dan khasiat yang sangat baik sehingga masyarakat sadar akan kesehatan tanpa ada penggunaan obat kimia secara berlebihan

Strategi W-O

1.      Masyarakat lokal dalam mengobati penyakit menggunakan tumbuhan obat berdasarkan pengalamannya jadi bisa dikembangkan di masa yang akan datang

2.      Tumbuhan obat lebih baik dipasarkan agar mudah masyarakat lain untuk membelinya dengan harga terjangkau dan juga mengurangi obat kimia

Strategi S-T

1.      Pengetahuan tumbuhan obat masyarakat lokal sangat tinggi agar bisa memberitahukan kepada generasi muda bahwa tumbuhan obat sangat baik digunakan

2.      Kualitas dan khasiat tumbuhan obat sangat baik sehingga banyaknya tumbuhan yang punah diakibatkan oleh kerusakan hutan

Strategi W-T

1.      Masyarakat lokal mengobati penyakit berdasarkan pengalamannya sehingga generasi muda banyak yang tidak mempercayai pengetahuan terdahulu

2.      Tumbuhan obat belum banyak dipasarkan akan mengancam hilangnya pengetahuan lokal karena kerusakan hutan yang mengakibatkan kepunahan terhadap tumbuhan obat yang ada di alam

 

4.2 Pembahasan

4.2.1 Demografi Responden

          Pada kategori pengobat tradisional (Batra) yaitu mereka yang mengetahui jenis tumbuhan obat dan juga dipercayai dalam mengobati orang lain selain keluarga mereka, pengobat tradisional (batra) biasanya menggunakan doa-doa yang dipelajari dari tetua dahulu sedangkan masyarakat lokal yaitu hanya mengetahui jenis tumbuhan obat dan hanya mengobati keluarga mereka tanpa melakukan jampi-jampi karena hanya menyembuhkan penyakit yang ringan. Menurut Sopi & Tallan (2015), bahwa pengobatan sendiri atau pengobatan rumah tangga merupakan upaya yang dilakukan oleh orang awam untuk menanggulangi sendiri keluhan sakitnya dalam menggunakan tumbuhan obat, tujuan pengobatan sendiri untuk meningkatkan kesehatan, pengobatan sakit ringan. Menurut hasil penelitian Lesmana et al. (2018), pengobatan tradisional itu berasal dari nenek moyang mereka yang diturunkan secara turun temurun dan juga pada pengobat tradisional atau dikenal dengan batra mereka bisa mengobati dengan menyisipkan doa-doa, jampi-jampi dan mantra.

          Hal ini diasumsikan pada kategori jenis kelamin paling banyak berjumlah 32 orang yaitu laki-laki dengan persentase 86,49%, sedangkan perempuan yaitu sebanyak 5 orang dengan persentase 13,51%. Menurut Ribeiro et al. (2017) pada hasil penelitian yang mereka dapatkan bahwa responden laki-laki memiliki angka tertinggi yaitu berjumlah 55%. Pada hasil penelitian Baydoun et al. (2015), jumlah responden terbanyak pada jenis kelamin laki-laki yaitu 70% dan perempuan hanya sekitar 30%, dalam hasil penelitian ini bahwa jumlah pengobat laki-laki itu paling tinggi karena perdagangan tumbuhan obat secara tradisional merupakan profesi yang didominasi oleh laki-laki. Responden perempuan lajang dalam penelitian ini hanya membantu dalam penjual tumbuhan herbal yang didapatkan dari tokoh herbal milik laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian Salsabila et al. (2014), responden yang paling mendominasi pada jenis kelamin laki-laki karena laki-laki dewasa memiliki peranan yang sangat penting dalam melakukan kegiatan pemanfaatan tumbuhan, dan juga melakukan pengolahan lahan seperti mencangkul, mengambil bibit dari rumah, pengangkutan hasil panen dan memupuk hasil tanam.

          Pada kategori umur responden yang paling dominan pada umur >60 tahun berjumlah 23 orang dan pada umur >45-59 tahun berjumlah 11 orang, umur >30-45 tahun hanya sedikit yaitu berjumlah 3 orang dengan persentase nya pada setiap umur 62,16%, 29,73% dan 8,11 %. Menurut penelitian Alalwan et al. (2019) bahwa kebanyakan dari mereka yang memiliki pengetahuan tumbuhan obat berkisar umur 40-60 tahun (62,5%) diikuti oleh (27,5%) pada kelompok umur diatas 60 tahun. Dominasi kategori usia ini kemungkinan  besar disebabkan oleh fakta bahwa mereka dianggap memiliki pengetahuan yang baik dalam menggunakan tumbuhan obat dalam pengobatan tradisional. Menurut pendapat Al-Fatimi (2019), pada hasil penelitiannya usia yang paling dominan yaitu lansia berkisar 70%.

          Kategori latar belakang pendidikan didominasi tingkat SD yaitu berjumlah 35 orang dan SMA 2 orang dengan persentasberjumlah 94,59% dan 5,41%. Menurut Boudjelal et al. (2013), bahwa pendidikan pada infroman yang diwawancarai yaitu buta huruf (34%), SD (11%) dan SMP/SMA (31%), bahkan dengan Pendidikan tingkat Perguruan Tinggi ada (24%) masih sangat rendah. Menurut Panmei et al. (2019) bahwa pendidikan batra atau informan yang di wawancarai dalam penelitiannya hanya sampai tingkat sekolah dasar dan menengah. Kategori pengalaman responden yang paling lama yaitu 10-20 tahun berjumlah 20 orang (54,05%), 7 orang (18,92%) >20 tahun, 2-5 tahun berjumlah 5 orang (13,51%) dan 5-10 tahun yaitu berjumlah 5 orang (13,51%). Menurut Panmei et al. (2019), bahwa pengalaman praktisi dalam pengetahuan tentang tumbuhan obat yaitu berkisar antara 35 hingga 86 tahun dengan penyembuhan rata-rata praktik 21-29 tahun.

4.2.2 Pemanfataan Tumbuhan sebagai Obat di Kabupaten Bangka Selatan

          Tumbuhan dengan nilai RFC yang tinggi yaitu pada tanaman pinang (A.catechu), nangka (A.heterophyllus) dan mate ayam (A.crispa), Tanaman pinang (A.catechu), dengan hasil UV yaitu berjumlah (0,16) , FL (16,22) dan hasil RFC berjumlah 0,004, tanaman pinang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit Panau Kembang (Mandi kembang), kayap, bengkak perut, sakit kepala dan lambung. Penyakit panau kembang (Mandi kembang) itu menggunakan bunga pinang, penyakit kayap bagian yang digunakan yaitu pelepah pinang, penyakit bengkak perut menggunakan bagian tumbuhan pada akarnya, sakit kepala dan penyakit lambung menggunakan bagian buah pada tumbuhan pinang. Pada penelitian sebelumnya bahwa pemanfaatan tanaman pinang seperti pada bagian buahnya dapat digunakan sebagai obat menghilangkan rasa pusing akibat masuk angin, buah pinang tersebut dibakar dan dihirup asapnya. Buah pinang juga bisa dijadikan obat cacing, buahnya dihaluskan dan ditambah air hangat. Tandan bunga pinang juga bisa dijadikan obat pegal yaitu dengan menghaluskan tandan bunga pinang yang belum mekar kemudian ditempel pada bagian yang pegal-pegal (Nuryanti et al. 2015). Pada tanaman pinang (A.catechu), mengandung senyawa flavonoid (3,7%) dan tanin (8,53%) (Cahyanto 2018).

            Pada tanaman nangka (Artocarpus heterophyllus Lam) dan tumbuhan mate ayam (Ardisia crispa Thunb. A.DC.) dengan hasil UV (0,14), FL (13,51), dan RFC (0,004), pada bagian akar tanaman nangka dimanfaatkan oleh masyarakat pada jenis penyakit tamar, bengkak perut, tumor dan segugut. Menurut Safryadi et al. (2017), tanaman nangka dimanfaatkan sebagai obat pelancar asi bagi ibu yang sedang menyusui, bagian tanaman yang digunakan yaitu daun. Cara pengolahannya yaitu daun diambil secukupnya lalu dibersihkan dengan air bersih, rebus daun nangka dengan air secukupnya hingga mendidih, setelah didinginkan air rebusan daun nangka diminum. Air rebusan daun nangka juga ada untuk menghilangkan rasa sakit pada badan. Tumbuhan mate ayam dimanfaatkan untuk penyakit setelah melahirkan. Menurut penelitian Nurmayulis & Hermita (2015), bahwa tumbuhan mate ayam (Ardisia crispa Thunb. A.DC) dimanfaatkan sebagai obat demam, dada sesak, penurunan panas, disentri/peluruh kemih, antiracun. Pada penelitian Normasiwi (2016), Tumbuhan mate ayam (Ardisia crispa Thunb. A.DC) juga bermanfaat sebagai obat anti-inflamasi, anti-hyperalgesic, organ yang digunakan yaitu daun dan akarnya. Tumbuhan Ardisia crispa bobot sampel diuji terdapat produk akhir serbuk putih dengan kemurnian 98% dan produksinya sebanyak 1.6%, jenis senyawa pada tumbuhan mate ayam (Ardisia crispa) yaitu termasuk kedalam golongan saponin (Ma et al. 2009)

                Pada tumbuhan dengan nilai UV, FL dan RFC yang paling tinggi itu karena hasil wawancara yang dilakukan di masyarakat Kabupaten Bangka Selatan dengan tumbuhan yang sering digunakan dalam pengobatannya. Pada hasil penelitian Silalahi et al. (2018), bahwa tumbuhan yang memiliki nilai UV tinggi merupakan tumbuhan obat yang memiliki banyak khasiat dan dikenali oleh sebagian besar responden. Ketiga tumbuhan yang memiliki nilai UV tertinggi merupakan tumbuhan yang sering digunakan pada responden yang diwawancarai. Tumbuhan obat yang memiliki nilai UV rendah merupakan tumbuhan yang tidak dikenali oleh responden (Silalahi et al. 2018).

            Menurut Kayani et al. (2015), menyatakan bahwa tumbuhan yang memiliki nilai RFC tinggi harus di uji biologis untuk menilai dan melindungi keasliannya dan juga harus diprioritaskan untuk melestarikan tumbuhan yang tinggi terhadap nilai yang sering digunakan sebagai obat karena akan mengancam populasi tumbuhan apabila sudah banyak yang menggunakan tanpa melestarikannya. Tumbuhan dengan nilai RFC tinggi juga harus dievaluasi lebih lanjut secara fitokimia  dan secara farmasi untuk mengidentifikasi pada penemuan obat (Vitalini et al. 2013). Pada penelitian sebelumnya juga apabila nilai UV dan RFC nya tinggi yaitu indikasi potensi penyembuhan yang baik untuk penyakit tertentu (Butt et al. 2015). Nilai FL digunakan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang paling disukai untuk kegunaan tertentu sehingga tumbuhan dengan nilai FL yang lebih tinggi banyak dimanfaatkan oleh masyarakat (Riadi et al. 2019).

              Pemanfaatan tumbuhan yang dilakukan oleh masyarakat untuk satu jenis penyakit bisa menggunakan beberapa jenis tumbuhan yaitu pada penyakit Lambung seperti tumbuhan rukam (F.rukam), kemiri (A.moluccanus), pinang (A.catechu), gambir (U.gambir), dan Ketapang (T.catappa), pada hasil penelitian Istriyani (2011), bahwa kandungan buah kemiri berupa mineral antara lain besi 2 mg, fosfor 200 mg, dan kalsium 80 mg. Asam amino yang paling menonjol pada kemiri yaitu asam glutamat (3.71 gr/100 gr) dan asam aspartat (1.68 gr/100 gr) (Oktoba 2018).

          Tumbuhan gambir (U.gambir) mempunyai kandungan utama katekin (7-33%), asam katekutanat (20-55%), pirokatekol (20-30%), floresen (1-3%), kateku merah (35%), quersetin (2-4%), fixed oil (1-2%) dan wax (1-2%), kegunaan sebagai obat luka bakar, diare, disentri dan sariawan (Aditya & Alamanda 2016).  Menurut Isnawati et al. (2012), ekstrak gambir mengandung senyawa fungsional yang termasuk dalam golongan senyawa polifenol dan senyawa ini menghasilkan metabolit sekunder tumbuhan yang menyusun golongan tanin dan polifenol termasuk kedalam senyawa flavanoid. Flavanoid mempunyai sifat antioksidan bersifat melindungi timbulnya penyakit jantung dan dapat menurunkan lipidperioksidase serum (Viena & Nizar 2017). Pada penelitian Nurrani et al. (2014), bahwa tumbuhan Ketapang (T.catappa) juga mempunyai kandungan flavanoid.

4.2.3 Nilai Penting Famili/ Family Importance Value (FIV) Tumbuhan Obat di Bangka Selatan

            Pada hasil penelitian yang didapatkan paling banyak yaitu famili Myrtaceae sebanyak 9 spesies (B.frutescens, E.lepidocarpa, E.polyantha, M.leucadendra, P.guajava, S.aromaticum, S.cumini, S.pycnanthum, S.zeylanicum). Pada famili Poaceae sebanyak 8 spesies (B.vulgaris, C.Lacryma-joib, C.Nardus, I.Cylindrica, O.Sativa, P.Abscissum, P.Aciculare, S.officinarum).

            Menurut Istiqfar et al. (2017), bahwa pada suku Myrtaceae merupakan kelompok besar tumbuh-tumbuhan yang anggotanya banyak dikenal dan dimanfaatkan manusia karena mudah tumbuh dan banyak dijumpai di daerah tropis. Tumbuhan dari famili Myrtacaeae salah satunya adalah cengkeh (S.aromaticum). Tanaman cengkeh bermanfaat bagi kesehatan antara lain membantu mengatasi dan mengobati sakit gigi, peradangan, mengatasi mual, muntah, meningkatkan sistem pencernaan dan meredakan batuk (Hakim 2015). Tanaman jambu biji yang termasuk kedalam famili Myrtaceae juga ada yang memanfaatkan daun untuk penyakit diare, cara pengolahannya yaitu daun jambu biji yang muda langsung dimakan dengan demikian kandungan tanin yang ada tidak akan hilang dan terambil seluruhnya, karena jambu biji terdapat kandungan aktif yaitu tanin, tanin itu juga bersifat adstringensia (pengelat) karena dapat menciutkan selaput lendir usus (Permatasari et al. 2011).

            Famili Poaceae merupakan sebagian besar tumbuhan herba tidak dibudidaya dan biasanya tumbuh liar diperkarangan rumah, seperti pada akar tumbuhan bambu kuning (B.vulgaris) yang bisa dimanfaatkan utk mengobati penyakit kuning dan jenis tumbuhan pada pucuk daun lalang (I.cylindrica) juga memiliki manfaat untuk mengobati penyakit yang bisa sakit mata (Meliki et al.2013). Pada famili Poaceae juga ada yang di budidaya yaitu jenis dijadikan obat cacar pada jenis tanaman padi (O.sativa). Pada penelitian sebelumnya tanaman tebu termasuk kedalam famili poaceae juga bisa dijadikan obat batuk darah yaitu bagian yang diambil pada akar tebu (Aminah et al. 2016). Pada famili Rubiaceae yang memiliki 5 spesies yang didapatkan hasil wawancara, famili Rubiaceae bersifat kosmopolit yang tumbuh diberbagai habitat (Saleh & Hartana 2018). Jenis yang didapatkan pada hasil wawancara yaitu Mengkudu (M.citrifolia), Balik Adap (M.pubescens), Gambir (U.gambir), Tenam (P. viridiflora), Kembang Peca Pireng (G.jasminoides). Famili Rubiaceae telah lama dikenal sebagai sumber tumbuhan obat tradisional Indonesia, beberapa jenis tumbuhan sebagai obat tradisional yang diduga mempunyai aktivitas sebagai penangkal radikal bebas, reaktif okseigen spesies dan superoksida yaitu radikal bebas alami yang memiliki satu elektron tidak berpasangan (Marusin et al. 2013).

 

4.2.4 Kategori jenis penyakit pada jumlah informan yang menggunakannya            dan jumlah jenis

          Analisis ICF digunakan untuk mengetahui tingkat kesepakatan antar informan dan tumbuhan yang akan digunakan dalam setiap kategori, nilai ICF akan bernilai rendah apabila mendekati 0 karena tidak ada pertukaran informasi tentang penggunaan tumbuhan dalam pengobatan tradisional dan bernilai tinggi mendeketi 1 maka informan yang tersebut saling bertukar informasi (Gazzaneo et al. 2005). Berdasarkan hasil yang sudah dikategorikan sebanyak 10 kategori jenis penyakit, nilai ICF yang paling tinggi pada kategori gangguan otot dan tulang sedangkan yang paling rendah pada kategori (penyakit kuku, kulit & rambut) dan (gangguan kemih). Nilai ICF tinggi dari hasil wawancara yang didapatkan bahwa tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan itu sama jadi kesepakatan antar informan tinggi.

          Pada kategori jenis penyakit gangguan otot dan tulang dengan nilai ICF tinggi yaitu penyakit setruk, sebayak, lemas tulang dan tulang keropos (patah tulang). Tumbuhan yang digunakan yaitu mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), melati hutan (Jasminum sambac), serai tanah (Cymbopogon nardus L.). Berdasarkan hasil wawancara pada kategori penyakit gangguan otot dan tulang ada yang menggunakan tumbuhan sama dengan penyakit yang berbeda jadi kesepakatan antar informan ada.

          Tumbuhan yang digunakan pada penyakit dengan kategori rendah, pada kategori penyakit kuku, kulit dan rambut yaitu penyakit kayap, gatel dan panau (panu) tumbuhan yang digunakan yaitu pinang (Areca catechu L.), petai (Parkia speciosa Hassk), kayu are (Ficus carica L.), cabe (Capsicum annuum L.), kunyit (Curcuma longa L.), medang (Litsea resinosa Blume), jeruk nipis (Citrus aurantiifolia), delima (Punica granatum L.), ketepeng (Senna alata L.). Kategori gangguan kemih pada penyakit Kencing menggunakan tumbuhan jelai batu (Coix lacryma-jobi L.), katis rambai (Carica papaya L.) dan terung kepinit (Solanum torvum Sw). Berdasarkan responden yang diwawancarai bahwa banyak yang menggunakan jenis tumbuhan yang berbeda-beda dalam setiap penyakit jadi kemungkinan kurangnya kesepakatan antar informan dalam pengobat tradisional.

          Menurut hasil penelitian Aminah et al. (2016), bahwa tumbuhan obat pada penyakit kulit seperti gatal-gatal, panu, kudis dan kurap yang digunakan yaitu tumbuhan badan badi (Stachytarpheta jamaicensis), ketepeng (Senna alata). Pada tumbuhan ketepeng cina berfungsi sebagai obat panu, kadas, kurap, sembelit, cacing kremi pada anak dan sariawan, bagian yang digunakan daun karena mengandung bahan kimia diantaranya tannin, rein aloe-emodina, rein aloe-emodina-diantron, rein aloe-emodina, dan asam krisofanat serta flavonoid (Mahmudah et al. 2018).

4.2.5 Tumbuhan Obat Berdasarkan Habitusnya

          Habitus yang paling banyak ditemukan yaitu pada habitus pohon sebanyak 50 spesies (43,48%), pada habitus herba terdapat 30 spesies (26,09%), habitus perdu 26 spesies (22,61%) dan habitus liana 11 spesies (9,57%), habitus pohon mendominasi tingkat pemanfataan yang tinggi dibandingkan dengan habitus lainnya seperti pada bagian akar dan juga kulit batang, sejalan dengan hasil penelitian Rahman et al. (2019), bahwa masyarakat memanfaatkan tumbuhan sebagai obat juga banyak pada habitus pohon karena banyaknya bagian yang bisa dimanfaatkan dijadikan obat yaitu berupa akar, batang, buah, bunga, daun dan kulit batang. Habitus pada tingkat herba terdapat 30% kemungkinan tumbuhan tingkat herba lebih mudah tumbuh, menurut pendapat I`ismi et al. (2018), bahwa habitus herba merupakan tumbuhan yang memiliki batang lunak dan tidak berkayu, tumbuhan herba ini umumnya mudah ditemukan sehingga masyarakat lebih banyak memanfaatkannya untuk bahan pangan pewarna, kosmetik, kerajinan, budaya dan obat tradisional.

          Habitus perdu banyak digunakan oleh masyarakat Desa Neglasari dikarenakan perdu merupakan tumbuhan berkayu yang tidak seberapa besar dan bercabang dekat dengan permukaan, perdu juga banyak tumbuh di lingkungan sekitar masyarakat baik itu sengaja dibudidaya maupun tumbuh secara liar di alam dan relatif aman untuk digunakan (Yatias 2015). Menurut hasil penelitian I`ismi et al. (2018), bahwa habitus liana paling sedikit yang memanfaatkan karena tumbuhan liana hanya sedikit  golongan dari tumbuhan yang diketahui oleh masyarakat yang berkhasiat sebagai obat.

4.2.6 Bagian Tumbuhan yang Digunakan pada Tumbuhan Obat

          Pada bagian tumbuhan yang digunakan paling banyak yaitu akar, karena menurut pendapat responden bahwa akar sangat bertahan lama, bisa juga direbus berkali-kali sampai tidak ada lagi rasanya. Sejalan dengan penelitian Utami et al. (2019), bahwa akar merupakan bagian terkuat dan lebih mampu bertahan lama dibandingkan bagian tumbuhan lainnya, bagian akar juga lebih banyak dicampurkan dengan jenis tumbuhan obat lainnya dari pada di ramu secara tunggal. Akar merupakan bagian tumbuhan yang berperan dalam menyerap unsur hara dan nutrisi didalam tanah yang sangat berperan dalam pertumbuhan tumbuhan. Akar yang banyak digunakan sebagai obat yaitu akar aren, akar pule, akar jarak, dan lainnya, dan secara empirik banyak masyarakat di dunia menggunakan akar-akaran sebagai material tumbuhan obat (Hakim 2015).

          Pada hasil penelitian Faskalia & Wibowo (2014), menunjukan bahwa ekstrak akar positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin, sedangkan pada kulit batang positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik dan triterpenoid. Pada hasil penelitian yang sama bahwa adanya kandungan senyawa-senyawa yang menyebabkan ekstrak metanol pada akar dan kulit memiliki peran sebagai antioksidan. Senyawa metabolit sekunder yang dapat diperoleh pada bagian jaringan daun, akar, kayu batang, kulit batang, bunga dan biji (Usman 2017). Penapisan fitokimia menunjukkan bahwa semua ekstrak mengandung senyawa metabolit sekunder yang sama yaitu alkaloid, triterpenoid, flavonoid, tanin dan fenol (Syafitri et al. 2014).

4.2.7 Cara Penyiapan dan Penggunaan pada Tumbuhan Obat

          4.2.7.1 Cara Penyiapan Tumbuhan Obat

          Berdasarkan cara penyiapan tumbuhan obat yang paling dominan pada penggunaan dengan cara direbus. Menurut hasil penelitian Hasanah et al. (2016), pengolahan jenis tumbuhan obat paling banyak dengan cara direbus, karena umumnya masyarakat meramunya dalam bentuk jamu. Cara direbus dapat dilihat pada pengobatan pasca melahirkan seperti akar medang sang (P.excelsa), akar tenam (P.viridiflora), akar medang resak (L.cubeba), ketumbar (C.sativum), Sahang (P.nigrum), Cengkeh (S.aromaticum), Samak (E.lepidocarpa). Menurut Hasanah et al. (2016), takaran yang digunakan saat merebus air umumnya adalah tiga gelas air menjadi 1 gelas, dan tumbuhan obat yang direbus bisa digunakan dua sampai tiga kali sehari yakni pagi dan sore atau pagi, siang dan malam hari. Menurut Efremila et al. (2015), bahwa pengolahan tumbuhan obat dengan cara direbus dapat melarutkan semua zat berkhasiat yang terkandung pada tumbuhan obat yang kedalam air rebusannya.

4.2.7.2 Cara Penggunaan Tumbuhan Obat

          Berdasarkan cara penggunaannya yang paling banyak digunakan yaitu dengan cara diguyur, dari hasil wawancara yang didapatkan bahwa pada mengobatan setelah melahirkan pada ramuan yang telah direbus sebagian untuk diminum dan sebagiannya ditambahkan ke dalam air mandi, menurut mereka supaya aroma pada tubuh ibu setelah melahirkan itu akan berkurang. Cara penggunaannya yang paling sedikit yaitu dengan cara dimakan karena tidak banyak tumbuhan yang langsung untuk dimakan, dari hasil wawancara yang didapatkan bahwa sebagian besar hanya buah yang bisa langsung dimakan dalam pengobatan dan pada buah kebanyakan harus dimasak terlebih dahulu seperti dijadikan jus.

4.2.8 Upaya Konservasi Tumbuhan Obat

          Pengetahuan tumbuhan obat masyarakat lokal Kabupaten Bangka Selatan bisa dijadikan sebagai salah satu upaya konservasi, pada hasil wawancara masyarakat lokal tidak banyak yang melakukan pembudidayaan tumbuhan obat di perkarangan rumah, sebagian masyarakat menyebutkan bahwa tumbuhan obat tidak bisa diambil dan dilakukan pembudidayaan karena cara pengambilan tumbuhan obat yang ada dihutan itu tidak sama dan ada teknik cara pengambilannya. Berdasarkan hasil wawancara pada teknik pengambilan tumbuhan obat ada responden yang menyebutkan bahwa tumbuhan obat harus diambil dengan membelakangi matahari dan juga sebagian responden menyebutkan bahwa tumbuhan yang bisa dijadikan obat apabila tumbuhan tersebut jauh dari aktifitas kegiatan masyarakat.

4.2.8.1 Status Konservasi pada Tumbuhan Obat di Kabupaten Bangka Selatan

          Berdasarkan status konservasi tumbuhan obat, spesies yang termasuk kedalam kategori IUCN Red List yaitu 1 spesies (Carica papaya) data kurang (Data Deficient), 114 spesies berisiko rendah (Least Concern), 1 spesies (Sonneratia ovata) nyaris terancam (Near Threatened), dan 1 spesies (Syzygium zeylanicum) terancam (Endangered). Pada tumbuhan pepaya (Carica papaya) dengan kategori IUCN belum mempunyai data lengkap, kemungkinan masih banyak tumbuhan pepaya dibudidaya oleh masyarakat karena bagian tumbuhan ini bisa dijadikan sayur berupa pucuk dan buahnya. Pada status konservasi dengan kategori (Least Concern) sebenarnya belum terlalu mengkhawatirkan namun apabila tidak ada tindakan pencegahan dalam penebangan pohon atau perusakan kawasan, maka kelestarian jenis akan terancam (Hartini 2016).

            Status konservasi dengan kategori (Near Threatened), dari 12 jenis sudah tercatat dikategorikan langka menurut IUCN tahun 2014 ke 12 jenis tersebut salah satunya pada tumbuhan terancap perpat (Sonneratia ovata), karena adanya penurunan luas hutan mangrove yang sangat memprihatinkan seperti hutan mangrove yang ada di Jawa Timur berkurang dari luasan 7.750 ha menjadi 500 ha dan kawasan mangrove yang tersisa diperkirakan kurang dari 1% (Hartini 2016). Pada tumbuhan bebeti (Syzygium zeylanicum) terancam (Endangered) punah, dari status kelangkaan yang ditetapkan oleh IUCN 2019 untuk jenis-jenis tumbuhan tersebut perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap tumbuhan yang berkhasiat obat agar tidak terjadi kepunahan.

4.2.8.2 Strategi Konservasi

          Konservasi secara berkelanjutan sangat penting untuk kepentingan tumbuhan obat agar tidak punah di habitat aslinya, apabila pengambilan tumbuhan obat tidak secara berlebihan agar tumbuhan tidak punah, jadi masyarakat Kabupaten Bangka Selatan harus melakukan pencegahan terhadap kerusakan hutan. Pada hasil wawancara informan menyebutkan tumbuhan obat sudah sangat susah didapatkan karena sudah banyak yang melakukan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit.

          Menurut pendapat Noorhidayah et al. (2006), bahwa faktor utama ancaman bagi kelestarian tumbuhan obat secara umum menjadi 3 yaitu, kerusakan habitat, kelangkaan jenis dan pemanfaatan sumberdaya hutan secara berlebihan. Pemanfaatan berlebihan terhadap tumbuhan obat telah teridentifikasi merupakan ancaman bagi kelestarian tumbuhan obat, hal ini terjadi karena jenis-jenis tumbuhan obat belum dibudidayakan secara luas. Pembudidayaan merupakan salah satu yang penting dalam menjaga kelestarian dan keberlangsungan manfaat dari suatu spesies tumbuhan (Hikmat et al. 2011). Pemanenan tumbuhan obat langsung dari alam apabila dilakukan tanpa memperhatikan kelestarian dapat menyebabkan kelangkaan dan akhirnya tumbuhan tersebut akan punah (Noorhidayah et al. 2006).

 

 


V. SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tumbuhan yang dijadikan obat di Kabupaten Bangka Selatan yaitu sebanyak 117 jenis dengan 57 famili, pemanfaatan tumbuhan pinang dengan analisis UV paling tinggi dengan nilai (0,16), FL (16,22) dan hasil RFC yaitu 0,004. Tanaman yang memiliki nilai RFC paling tinggi yaitu tanaman pinang. Pada hasil ICF paling tinggi yaitu kategori gangguan otot dan tulang sedangkan yang paling rendah pada kategori (penyakit kuku, kulit & rambut) dan (gangguan kemih). Upaya konservasi terhadap tumbuhan obat di Bangka Selatan mencegah kerusakan hutan berupa penebangan pohon secara berlebihan akan mengganggu pertumbuhan tumbuhan obat.

Saran

            Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan adanya data-data yang didapatkan maka perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang kandungan pada tumbuhan obat dengan hasil RFC nya  tinggi agar bisa mengetahui tumbuhan dengan nilai yang tinggi itu layak atau tidak dijadikan obat untuk kedepannya. Penelitian selanjutnya agar melakukan strategi konservasi dalam bentuk pelestarian hutan yang masih banyak potensi terhadap tumbuhan sebagai obat.

             

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Aditya M & Alamanda T P. 2016. Khasiat Gambir untuk Mengobati           Jerawat. Majority. 5(3):172-177.

 

Alalwan T A, Alkhuzai J A, Jameel Z & Mandeel Q A. 2019. Quantitative             Ethnobotanical Study of some Medicinal Plants used by Herbalists in           Bahrain. Journal of Herba Medicine. xxx(xxxx): 1-9.

 

Al-Fatimi M. 2019. Ethnobotanical Survey of Medicinal Plants in Central   Abyan             Governorate, Yemen. Journal of Ethnopharmacology. 241: 1-24.

 

Al-Qura’an S. 2009. Ethnopharmacological Survey of Wild Medicinal Plants         in Showbak, Jordan. J Ethnopharmacol. 123 (1): 45-50.

 

Aminah S, Wardenaar E & Muflihati. 2016. Tumbuhan Obat yang Dimanfaatkan             oleh Battra Di Desa Sejahtera Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong             Utara. Jurnal Hutan Lestari. 4(3): 299-305.

           

Analisa. 2018. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional Pasca Melahirkan di Pulau Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. [Skripsi]. Universitas Bangka Belitung: Bangka.

 

Andajani E, Widjaja FN & Prihatiningrum AE. 2017. Pengembangan Potensi Desa Wisata Melalui Analisis SWOT di Kecamatan Kalitidu Bojonegoro. Seminar Nasional dan Gelar Produk. 909-915.

 

Astuti H, Judhaswati R W, Syafrizal M, Hendra J & Rangga A. 2018. Perspektif Pengambil Kebijakan dan Strategi Pengembangan Tanaman Obat Asli Lampung Berdasarkan Persepsi Pemerintah Provinsi Lampung. JSEP. 11(3): 1-16.

 

Badan POM RI. 2009. Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup. Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen Direktorat Obat Asli Indonesia.

 

Badan POM RI. 2011. Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia, Ramuan Etnomedisin Volume I. Badan POM RI: Jakarta.

 

Baydoun S, Lamis C, Helena D & Nelly A. 2015. Ethnopharmacological Survey of Medicinal Plants Used in Tradisional Medicine by the Communities of Mount Hermon Lebanon. Journal of Ethnopharmacology. 173: 139-156.

 

Boudjelal A et al. 2013. Herbalists and Wild Medicinal Plants in M'Sila (NorthAlgeria):An Ethnopharmacology Survey. Journal of Ethnopharmacology. x(xxxx): 1-8.

 

BPS [Badan Pusat Statistik]. 2018. Kabupaten Bangka Selatan dalam angka. Badan Pusat Statistik         Kabupaten Bangka Selatan. Toboali. https://bangkaselatankab.bps.go.id. [Diakses 13 Februari 2019]

 

Butt M A et al. 2015. Ethnomedicinal Uses of Plants for the Treatment of Snake and Scorpion Bite in Northern Pakistan. Journal of Ethnopharmacology. x(xxxx): 1-18.

 

Cahyanto H A. 2018. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Biji Pinang (Areca catechu L.). Majalah BIAM. 14(2): 70-73.

 

Efremila, Wardenaar E & Sisillia L. 2015. Studi Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Etnis Suku Dayak di Desa Kayu Tanam Kecamatan Mandor Kabupaten Landak. Jurnal Hutan Lestari. 3(2): 234-246.

 

Fadhilah F. 2019. Pemanfaatan Tumbuhan dalam Pengobatan Tradisional oleh Suku Melayu Bangka Barat dan Sumbangannya pada Pembelajaran Biologi SMA. [Skripsi]. Universitas Sriwijaya: Palembang.

 

Falah F, Sayektiningsih & Noorcahyati. 2013. Keragaman Jenis dan            Pemanfaatan   Tumbuhan Berkhasiat Obat Oleh Masyarakat Sekitar            Hutan Lindung Gunung Beratus, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian           Hutan Dan Konservasi Alam. 10(1): 1–18.

 

Faskalian & Wibowo M A. 2014. Skrining Fitokimia Uji Aktivitas                        Antioksidan dan Uji Sitotoksik Ekstrak Metanol pada Akar dan                                                                               Kulit Batang Soma (Ploiarium alternifolium). JKK. 3(3): 1-6.

 

Gazzaneo L R S, Lucena R F P & Albuquerque U P. 2005. Knowledge and           Use of             Medicinal Plants by Local Specialists in A Region of Atlantic             Forest in the    State of Pernambuco (North Eastern Brazil). Journal of        Ethnobiology and Ethnomedicine. 1: 1-11.

 

Hafizoh. 2016. Pemanfaatan Tumbuhan Sebagai Obat Tradisional untuk Kesehatan Anak Usia Dini di Pulau Pongok Kabupaten Bangka Selatan [Skripsi]. Universitas Bangka Belitung: Bangka.

 

Hakim L. 2014. Etnobotani dan Manajemen Kebun-Pekarangan Rumah:    Etnobotani dan Manajemen Kebun-Pekarangan Rumah: Ketahanan        Pangan, Kesehatan dan Agrowisata. Penerbit Selaras: Malang.

 

Hakim L. 2015. Rempah dan Herba Kebun Perkarangan Rumah Masyarakat:       Keragaman, Sumber Fitofarmaka dan Wisata Kesehatan Kebugaran.     Penerbit Diandra Creative: Sleman Yogyakarta.

 

Hartini S. 2016. Tumbuhan Mangrove di Kawasan Kakenauwe Pulau Buton          Sulawesi Tenggara: Keanekaragaman Status Kelangkaan dan Potensi.     Ekologia. 16(1):11-18.

 

Hasanah N, Sudrajat H W & Damhuri. 2016. Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Desa Lapandewa Kaindea Kecamatan Lapandewa          Kabupaten Buton Selatan. Jurnal Ampibi. 1(1): 14-20.

 

Henri, Hakim L & Batoro J. 2018. Kearifan Lokal Masyarakat sebagai Upaya        Konservasi Hutan Pelawan di Kabupaten Bangka Tengah,    Bangka            Belitung. Jurnal Ilmu Lingkungan. 16(1): 49-57.

 

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I dan II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

 

Hidayat S. 2012. Keberadaan dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Langka Di           Wilayah Bogor dan Sekitarnya. Media Konservasi. 17(1):33-38.

 

Hikmat A, Zuhud E AM, Siswoyo, Sandra E & Sari R K. 2011. Revitalisasi           Konservasi Tumbuhan Obat Keluarga (TOGA) Guna Meningkatkan         Kesehatan dan Ekonomi Keluarga Mandiri di Desa Contoh Lingkar           Kampus IPB Darmaga Bogor. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 16(2):71-     80.

 

Hisa L, Mahuze A & Arka I W. 2018. Etnobotani, Pengetahuan Lokal Suku           Marori di Taman Nasional Wasur Merauke. Balai Taman Nasional Wasur.         https://meraukelanguages.org/id/publications/hisa-et-al-2016-ethnobiology-  guidebook/

Ibrahim. 2016. Inventarisasi Tumbuhan Obat Tradisional Suku Dayak Bakumpai di Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya [Skripsi]. Palangka Raya: Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya.

 

I`ismi B, Herawatiningsih R & Muflihati. 2018. Pemanfaatan Tumbuhan    Obat    oleh Masyarakat di Sekitar Areal Iuphhk-Htipt.Bhatara Alam Lestari  di          Kabupaten Mempawah. Jurnal Hutan Lestari. 6(1): 16-24.

 

Irmawati. 2016. Etnobotani Tumbuhan Obat Tradisional pada Masyarakat di Desa            Baruga Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur [Skripsi]: UIN Alauddin      Makassar: Makassar.

 

Isnawati A et al. 2012. Karakterisasi Tiga Jenis Ekstrak Gambir (Uncaria   gambir             Roxb) dari Sumatera Barat. Bul Penelitian Kesehat. 40(4): 201-208.

 

Istiqfar S, Yoza D & Sulaeman R. 2017. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan            Obat di Hutan Adat Rimbo Tujuh Danau Desa Buluh Cina Kabupaten   Kampar Provinsi Riau. Jom Faperta UR. 4(1): 1-8.

 

Istriyani YY. 2011. Pengujian Kualitas Minyak Kemiri dengan Mengukur Putaran            Optik Menggunakan Polarimeter. [Tugas Akhir]. Universitas Diponegoro:             Semarang.

 

Kayani et al. 2015. Ethnobotany of Medicinal Plants Among the Communities of Alpine and Sub-alpine Regions of Pakistan. Journal of    Ethnopharmacology. 164: 186–202.

 

Kemenkes RI. 2011. 100 Top Tanaman Obat Indonesia. Balai Besar Litbang         Tanaman Obat dan Obat Tradisional.

 

Kinho J et al. 2011. Tumbuhan Obat Tradisional di Sulawesi Utara Jilid I. Balai     Penelitian Kehutanan Manado: Manado

 

Lesmana H, Alfianur, Utami P A, Retnowati Y & Darni. 2018. Pengobatan            Tradisional pada Masyarakat Tidung Kota Tarakan: Study Kualitatif          Kearifan Lokal Bidang Kesehatan. Medisains: Jurnal Ilmiah Ilmu-  ilmu           Kesehatan. 16(1): 31-41.

 

Litaay T. 2008. Kemendesakan Perlindungan Pengetahuan Tradisionaldi  Indonesia. Prosiding Diskusi Indigenous Knowlegde dan Pembangunan. www.uksw.edu/2008-03-28/Prosiding Diskusi Indigenous Knowlegde dan Pembangunan pdf.

 

Ma Y, Pu S, Cheng Q & Ma M. 2009. Isolation and Characterization of Ardicrenin from Ardisia crenata Sims. Plant Soil Environ. 55(7):305-310.

 

Mahmudah R, Abdullah N, Pratiwi A, Hidayah M A & Ismail R. 2018. Uji Efektifitas Ekstrak Etanol Pada Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) Terhadap Mikroba Penyebab Sariawan (Stomatitis Aphtosa). Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia. 4(1):39-52.

 

Marusin S, Saefudin & Chairul. 2013. Potensi Sifat Antioksidan pada 10 Jenis       Ekstrak dari Famili Rubiaceae (The Potential Antioxidant Activity of 10     Type Extract of Rubiaceae). Jurnal Biologi Indonesia.  9(1): 93-100

 

Marwiyati. 2012. Ekologi Vegetasi dan Etnobotani Kawasan Karst Gunung Cibodas, Ciampea [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor: Bogor

 

Meliki, Linda R & Lovadi I. 2013. Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Suku Dayak Iban Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Jurnal Protobiont. 2(3): 19-135.

 

Mumi S A, Prawito P & Widiono S. 2012. Eksistensi Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional (TOT) Suku Serawai Diera Medikalisai Kehidupan. Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 1(3): 225-234.

 

Noorhidayah, Sidiyasa K & Hajar I. 2006. Potensi dan Keanekaragaman Tumbuhan Obat di Hutan Kalimantan dan Upaya Konservasinya. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. 3(2): 95-107.

 

Normasiwi S. 2016. Keragaman dan Potensi Ardisia Koleksi Kebun Raya Cibodas. Prosiding Symbion.11-19.

 

Nurrani L, Kinho J & Tabba S. 2014. Kandungan Bahan Aktif dan             ToksisitasTumbuhan Hutan Asal Sulawesi Utara yang Berpotensi sebagai        Obat. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 32(2): 123-138.

 

Nurrani L, Tabba S & Mokodompit H S. 2015. Kearifan Lokal dalam         Pemanfaatan Tumbuhan Obat oleh Masyarakat di Sekitar Taman Nasional          Aketajawe Lolobata Provinsi Maluku Utara. Jurnal Penelitian Sosial dan    Ekonomi Kehutanan. 12(3): 163-175.

 

Nurmayulis & Hermita N. 2015. Potensi Tumbuhan Obat dalam Upaya       Pemanfaatan Lahan Pekarangan oleh Masyarakat Desa Cimenteng Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman.   4(1): 1-7.

 

Nuryanti S, Linda R & Lovadi I. 2015. Pemanfaatan Tumbuhan Arecaceae            (Palem-Paleman) oleh Masyarakat Dayak Randu' di Desa Batu Buil       Kecamatan Belimbing Kabupaten Melawi. Jurnal Protobiont. 4(1):             128           135.

 

Oktoba Z. 2018. Studi Etnofarmasi Tanaman Obat untuk Perawatan dan    Penumbuh Rambut pada Beberapa Daerah di Indonesia. Jurnal Jamu      Indonesia. 3(3): 81-88.

 

Panmei R, Gajurel P R & Singh B. 2019. Ethnobotany of Medicinal Plants             Used    by the Zeliangrong Ethnic Group of Manipur, Northeast India.   Journal Ethnopharmacology. 1-34.

 

Permatasari D, Diniatik & Hartanti. 2011. Studi Etnofarmakologi Obat       Tradisional sebagai Anti Diare di Kecamatan Baturaden Kabupaten      Banyumas. Pharmacy. 8 (1): 44-64.

 

Radam et al. 2016. Pemanfaatan Tumbuhan yang Berkhasiat Obat oleh       Masyarakat di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.    Prosiding Seminar Nasional Lahan Basah. Jilid 2.

 

Rahayu M., Sunarti S, Sulistiarini D & Prawiroatmodjo S. 2006. Pemanfaatan        Tumbuhan Obat secara Tradisional oleh Masyarakat Lokal di Pulau   Wawonii , Sulawesi Tenggara Traditonal. Biodiversitas. 7: 245–250.

 

Rahayu S M. 2011. Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Kabupaten      Subang, Jawa Barat: Studi Kasus Di Kecamatan Jalancagak, Kecamatan           Dawuan dan Kecamatan Tambakdaha [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor:             Bogor.

 

Rahman K, Wardenaar E & Mariani Y. 2019. Identifikasi Jenis dan  Pemanfaatan Tumbuhan Obat di Hutan Tembawang oleh         Masyarakat Kelurahan            Beringin Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau. Jurnal Hutan Lestari.            7(1): 44-55.

 

Ramdhan B. 2015. Valuasi Keanekaragaman Hayati Tumbuhan dalam Heterogenitas Spasial: Studi Kasus Kampung Adat Cikondang Jawa Barat [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor: Bogor

 

Reyes-Garcia et al. 2006. Cultural, practical and Economic Value of Wild Plants: A Quantitative Study In The Bolivian Amazon. Economic Botany. 60(1):62-74.

 

Riadi R, Oramahi H A & Yusro F. 2019. Pemanfaatan Tumbuhan Obat oleh          Suku    Dayak Kanayatn di Desa Mamek Kecamatan Menyuke             Kabupaten Landak. Jurnal Hutan Lestari. 7(2): 905-915.

 

Ribeiro R V et al. 2017. Ethnobotanical study of medicinal plants used by Ribeirinhos in the North Araguaia microregion, Mato Grosso, Brazil.      Journal of Ethnopharmacology. 205: 69-102.

 

Ristoja. 2012. Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan Obat di Indonesia Berbasis Komunitas. Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.

Safryadi A, Nasution A R & Mahdalena. 2017. Kajian Etnobotani Melalui             Pemanfaatan Tanaman Obat di Desa Rema Kecamatan Bukit Tusam             Kabupaten Aceh Tenggara. Prosiding Seminar Nasional Biotik. 367-380.

 

Saleh M F R M & Hartana A. 2018. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Cagar         Alam Pangi Binangga, Sulawesi Tengah. Media Konservasi.     22(3): 286-      292.

 

Salsabila P P, Zuhud E A M & Siswoyo. 2014. Pemanfaatan Tumbuhan Pangan     dan Obat oleh Masyarakat di Dusun Palutungan, Desa Cisantana Sekitar    Taman Nasional Gunung Ciremai. Media Konservasi. 19(1): 146-153.

 

Samoisy A K & Mahomoodally F. 2016. Ethnopharmacological Appraisal of          Culturally Important Medicinal Plants and Polyherbal Formulas Used            Against Communicable Diseases in Rodrigues Island. J Ethnopharmacol.        194: 803-818.

 

Shosan L O et al. 2014. Ethnobotanical Survey of Medicinal Plants Used in           Curing Some Diseases in Infants in Abeokuta South Local Government           Area of Ogun State, Nigeria. American Journal of Plant Sciences. 5(5):           3258-     3268.

 

Silalahi M, Nisyawati, Walujo E B & Mustaqim W. 2018. Etnomedisin       Tumbuhan Obat oleh Subetnis Batak Phakpak di Desa Surung         Mersada, Kabupaten Phakpak Bharat Sumatera Utara. Jurnal Ilmu Dasar.           19(2): 77-92.

 

Syafitri N E, Bintang M & Falah S. 2014. Kandungan Fitokimia Total Fenol          dan Total Flavonoid Ekstrak Buah Harendong (Melastoma affine   D.Don). Current Biochemistry. 1(3): 105-115.

 

Syafitri F R., Sitawati & Setyobudi L. 2014. Kajian etnobotani masyarakat desa    berdasarkan kebutuhan hidup. Jurnal Produksi Tanaman. 2(2): 172–179.

 

Sopi I & Tallan M M. 2015. Kajian Beberapa Tumbuhan Obat Yang           digunakan dalam Pengobatan Malaria Secara Tradisional. Spirakel. 7(2):      28-37.

 

Susiarti S. 2015. Pengetahuan dan pemanfaatan tumbuhan obat masyarakat            lokal    di Pulau Seram, Maluku. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon.1(5):          1083-1087.

 

Tardio J, & Pardo-de-Santayana M. 2008. Cultural Importance Indices: A Comparative Analysis Based On the Useful Wild Plants of Southern          Cantabria (Northem Spain). Econ Bot. 62: 24-39.

 

Usman. 2017. Uji Fitokimia dan Uji Antibakteri dari Akar Mangrove          Rhizopora apiculata terhadap Bakteri Escherichia coli dan    Staphylococcus aureus. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia. 2(3): 169-177.

 

Utami R D, Zuhud E A.M & Hikmat A. 2019. Etnobotani dan Potensi       Tumbuhan Obat Masyarakat Etnik Anak Rawa Kampung Penyengat    Sungai Apit Siak Riau. Media Konservasi. 24(1): 40-51.

 

Viena V & Nizar M. 2017. Studi Kandungan Fitokimia Ekstrak Etanol Daun         Gambir Asal Aceh Tenggara sebagai Anti Diabetes. Serambi          Engineering.    3(1): 240-247.

 

Vitalini S et al. 2013. Traditional Knowledge on Medicinal and Food Plants  Used            in Val San Giacomo (Sondrio,Italy)—An Alpine Ethnobotanical Study.   Journal of Ethnopharmacology. 145: 517-529.

 

Wahidah B F. 2013. Etnobotani Tumbuhan Obat yang Dimanfaatkan oleh Masyarakat Kecamatan Tompobulu Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.   Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian UIN Alauddin: Samata Gowa.

Walujo E B. 2011. Sumbangan Ilmu Etnobotani dalam Memfasilitasi Hubungan    Manusia dengan Tumbuhan dan Lingkungannya. Jurnal Biologi Indonesia.     7(2): 375-391.

 

Witjoro A, Sulisetijono & Setiowati F K. 2016. Pemanfaatan Tanaman Obat          di Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Natural.             3(4): 303-310.

 

Wulandari T. 2018. Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnomedisin dan Tumbuhan      Obat di Desa Pagar Dalam, Pelita Jaya, Tanjung Raya dan  Ulok Manek            Kecamatan Pesisir Selatan Kabupaten Pesisir Barat. [Skripsi]. Universitas      Islam Negeri: Raden Intan Lampung.

 

Yatias E A. 2015. Etnobotani Tumbuhan Obat di Desa Neglasari Kecamatan         Nyalindung Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. [Skripsi].            Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: Jakarta.

 

Zulharman, Yaniwiadi B & Batoro J. 2015. Etnobotani Tumbuhan Obat dan          Pangan Masyarakat Suku Sambori Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat          Indonesia. Natural B. 3(2): 198-204.

 

 


 

 

 

LAMPIRAN


Lampiran 1 Responden yang diwawancarai

Kakek Durani

Kecamatan Kepulauan Pongok

Bapak Isni Sahut

Kecamatan Lepar Pongok

Bapak Bujang

Kecamatan Lepar Pongok

Kakek Hamzah

Kecamatan Tukak Sadai

Kakek Junaidi

Kecamatan Tukak Sadai

Bapak Ma`a

Kecamatan Toboali

Bapak Saltof

Kecamatan Toboali

Bapak Agus

Kecamatan Toboali

Bapak Sakaria

Kecamatan Air Gegas

Kakek Darnadi

Kecamatan Air Gegas

Kakek Iya

Kecamatan Air Gegas

Kakek Hj.Mustafa

Kecamatan Payung

Nenek Hj.Sholeha

Kecamatan Payung

 

Bapak Bilit

Kecamatan Simpang Rimba

Nenek Hj. Zurna

Kecamatan Simpang Rimba

Bapak Hamin

Kecamatan Pulau Besar

Bapak Sudarno

Kecamatan Pulau Besar

 

 


 

Lampiran 2 Jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat


Sambiloto

Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees


Poipo

Brucea javanica (L.) Merr


Serai Tanah

Cymbopogon nardus (L.) Rendle


Serai Kayu

Eugenia polyantha Barb.Rodr


Sireh

Piper betle L.


Sireh Licin

Piper retrofractum Vahl

Pisang Tikus

Tarbernaemontana pauciflora Blume


 Pelangas

 Aporosa octandra


Hamak

Eugenia lepidocarpa Wall.ex Kurz


Sisil Ayam

Syzigium cumini (L.) Skeels


Jeluk Antu

Arthrophyllum diversifolium Blume


Pelempang Putih

Adinandra dumosa Jack

 


 

 

Lampiran 3. Herbarium Tumbuhan Obat

 

 

 


No. Kuesioner:

Lampiran 4. Kuesioner Penelitian

 

KUESIONER PENELITIAN

 

ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT LOKAL ETNIS MELAYU SEBAGAI UPAYA KETAHANAN OBAT TRADISIONAL

DI KABUPATEN BANGKA SELATAN

Assalamualaikum Wr.Wb.

Responden yang terhormat:

            Perkenalkan saya Dayu Puspita Sari, mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Bangka Belitung yang sedang mengadakan penelitian tentang “Etnobotani Tumbuhan Obat Masyarakat Lokal Etnis Melayu Sebagai Upaya Ketahanan Obat Tradisional di Kabupaten Bangka Selatan”. saya selaku peneliti meminta kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk membantu penelitian ini dengan mengisi kuesioner. Berikut kuesioner yang saya ajukan, mohon kepada Bapak/Ibu/Saudara/i untuk memberikan jawaban yang sejujur-jujurnya dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Adapun jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara/i berikan tidak akan berpengaruh pada diri Bapak/Ibu/Saudara/i karena penelitian ini dilakukan semata-mata untuk keperluan tugas akhir saya dan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agar nantinya bisa bermanfaat ke generasi berikutnya atas jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara/i berikan. Atas kerjasamanya dan dukungannya dari Bapak/Ibu/Saudara/i saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

 

A. Identitas Responden

  1. Nama Responden        : ______________________
  2. Umur                           : ____ tahun
  3. Jenis Kelamin              : Laki-laki / Perempuan* (*coret salah satu)
  4. Kategori Informan      : Pengobat Tradisional (BATRA) / Masyarakat umum* (*coret salah satu)
  5. Pendidikan terakhir Bapak/Ibu/Sdr:

a. SD                                 b. SMP            c. SMA            d. Perguruan Tinggi

  1. Alamat (nama desa)    : ______________________
  2. Status penduduk         :

a. Penduduk asli desa       b. Penduduk pendatang

  1. Bahasa yang dikuasai:

a. Indonesia                       b. Bangka        c. Etnik            d. Lainnya: _____________

  1. Pekerjaan Ibu/Bapak/Saudara:

a. Petani                            b. Pedagang     c. PNS            d. Lainnya: _____________

 

B. Pengetahuan Tumbuhan Obat

  1. Apakah Bapak/Ibu/Saudara/i mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang berfungsi sebagai obat tradisional?

a.     Ya                                b. Tidak

  1. Menurut Bapak/Ibu/Saudara/i apa kelebihan tumbuhan obat dari pada obat-obatan/ obat kimia lainnya?

a.    Lebih terasa khasiatnya (manjur)          d. Lebih praktis

b.   Lebih aman                                           e. Lebih murah

c.    Mudah didapat                                                 f.  Lainnya:__________

  1. Menurut pendapat Bapak/Ibu/Saudara/i apakah potensi tumbuhan obat masih banyak?

a.    Banyak                         b. Sudah berkurang                 c. Tidak tahu

  1. Dari mana Bapak/Ibu/Saudara/i memperoleh tumbuhan obat tersebut?

a.    Tumbuhan liar (di hutan)                      c. Membeli dari daerah lain

b.   Budidaya                                              d. lainnya:_________

  1. Menurut pendapat Bapak/Ibu/Saudara/i bagaimana untuk memperoleh tumbuhan obat?

a.    Mudah                          b. Agak sulit                            c. Sulit

 

C. Pemanfaatan Tumbuhan Obat

  1. Apakah Bapak/Ibu/Saudara/i sering menggunakan tumbuhan obat?

a.    Ya                                 b. Tidak

  1. Jika TIDAK, mengapa?

a.     Pahit                            c. Sulit mengenali jenis tumbuhan

b.         Tidak terstandar        d. Lainnya: ____________

  1. Jika YA, sejak kapan menggunakan tumbuhan obat tersebut?
    1. < 2 tahun                     c. 5-10 tahun               e. > 20 tahun
    2. 2-5 tahun                     d. 10-20 tahun
  2. Seberapa sering Bapak/Ibu/Saudara/i menggunakan tumbuhan obat?
    1. 1 hari sekali                 b. ____ kali seminggu
  3. Jenis tumbuhan apa saja yang Bapak/Ibu/Saudara/i gunakan sebagai obat tradisional?

No.

Jenis Tumbuhan (nama lokal)

(1)

Organ tumbuhan yang digunakan

(2)

Cara pengolahan

(3)

Untuk mengobati penyakit apa

(4)

Sumber diperoleh

(5)

 

1

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

6

 

 

 

 

 

7

 

 

 

 

 

8

 

 

 

 

 

9

 

 

 

 

 

10

 

 

 

 

 

11

 

 

 

 

 

12

 

 

 

 

 

13

 

 

 

 

 

14

 

 

 

 

 

15

 

 

 

 

 

16

 

 

 

 

 

17

 

 

 

 

 

18

 

 

 

 

 

19

 

 

 

 

 

20

 

 

 

 

 

21

 

 

 

 

 

22

 

 

 

 

 

23

 

 

 

 

 

24

 

 

 

 

 

25

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Kolom 1    : Diisi sesuai dengan jenis tumbuhan/nama lokal

Kolom 2    : Mohon disebutkan bagian/organ tumbuhan yang digunakan sebagai obat

1 = Daun

2 = Bunga

3 = Buah

4 = Biji

5 = Kulit batang

6 = Akar

7 = Umbi akar

8 = Lainnya

Kolom 3    : cara pengolahan

1 = Rebus

2 = Bakar

3 = Ditumbuk/dihaluskan

4 = Lainnya

Kolom 4    : menurut masyarakat tumbuhan berkhasiat obat

Kolom 5    : sumber diperoleh

                              1 = tumbuhan liar

                              2 = budidaya

                              3 = membeli dari daerah lain

                              4 = lainnya

 

  1. Bagaimana Bapak/Ibu/Saudara/i mengukur dosis atau takaran obat tradisional yang digunakan? ______________________________________________________________
  2. Apakah dosis atau takaran obat yang digunakan pada setiap penyakit sama? __________
  3. Bagaimana Bapak/Ibu/Saudara/i menerapkan penggunaan obat tersebut pada usia yang berbeda? ________________________________________________________________
  4. Adakah ritual atau kebiasaan-kebiasaan khusus sebelum minum obat tradisional tersebut?

a.  Ya                     b. Tidak

  1. Jika YA, ritual atau kebiasaan apa saja yang Bapak/Ibu/Saudara/i lakukan? ___________
  2. Bagaimana cara Bapak/Ibu/Saudara/i menentukan kemanjuran suatu tumbuhan obat sebagai obat tradisional? __________________________________________________
  3. Apakah ada pantangan makan/minum waktu obat tradisional tersebut digunakan?

b.   Ada                   b. Tidak ada

  1. Jika ADA, penyebabnya mengapa? ___________________________________________
  2. Dari mana Bapak/Ibu/Saudara/i memperoleh pengetahuan tradisional untuk pengolahan obat dan pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat?

a. Orang tua          c. Kerabat lainnya

b. Saudara                         d. lainnya: ____________

  1. Apakah pengetahuan tentang tatacara pengobatan dan pengolahan tumbuhan obat dalam upaya penyembuhan ini diturunkan pada anak-anak Bapak/Ibu/Saudara/i? ____________
  2. Bagaimana upaya konservasi yang dapat dilakukan Bapak/Ibu/Saudara/i terhadap jenis-jenis tumbuhan obat tradisional yang digunakan? ________________________________

 

------Terima kasih atas respon dan jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara/i berikan-------

Peneliti

 

 

(Dayu Puspita Sari)

 

Responden

 

 

(…………………………)


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan pada tanggal 17 Februari 1997. Penulis merupakan anak ke dua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Kano dan Ibu Fatimah. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 18 Desa Jeriji tahun 2009. Pendidikan menengah pertama diselesaikan di SMP Negeri 4 Toboali pada tahun 2012. Pendidikan menengah atas diselesaikan penulis pada tahun 2015 di SMA Negeri 1 Toboali.

            Pada tahun 2015 penulis diterima di Universitas Bangka Belitung melalui jalur Mandiri pada Program Studi Biologi, Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi. Selama perkuliahan penulis aktif pada berbagai organisasi mahasiswa diantaranya Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMABIO), Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas dan KSR PMI. Pada Tahun 2017 penulis melakukan Praktek Lapang di UPTD Balai Proteksi Tanaman Desa Kace Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Pada tahun 2018 penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata di Desa Pasir Putih Kecamatan Tukak Sadai Kabupaten Bangka Selatan.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar